Share

Angklung Naik Kelas

Erika Lia, Koran SI · Jum'at 20 November 2015 06:32 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 19 525 1252541 angklung-naik-kelas-4pCHxorvJ9.jpg (Foto: Erika/Okezone)

Angklung ditetapkan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan non-Bendawi Manusia dari Indonesia, sejak 16 November 2010. Penetapan itu telah menaikkan kelas angklung dari sekedar pengusir hama dan alat penghibur diri pada masa dahulu.

Kamis, 19 november 2015, puluhan siswa dari setidaknya 11 sekolah tingkat SMP dan SMA asal Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Sumedang, mengikuti Pasanggiri Angklung Jawa Barat (PAJB) di Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang, Kota Cirebon. Kegiatan yang digelar selama sehari itu merupakan tahapan kualifikasi di Wilayah 3 yang terdiri dari empat daerah tersebut.

Pemenang tahap kualifikasi di sini akan diikutsertakan dalam pasanggiri angklung tingkat Jabar di Kabupaten Subang pada 9-10 Desember 2015. Dari situ, pemenangnya kelak diikutsertakan di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka Hari Angklung Dunia.

Ketua Pelaksana PAJB sekaligus perwakilan Yayasan Saung Angklung Udjo, Dudi Darma Bakti mengungkapkan, PAJB tahun ini merupakan yang ketiga kalinya. Sejak digelar pertama kali pada 2013, jumlah peserta terus bertambah.

"Rangkanya jelas, untuk melestarikan angklung sebagai warisan dari Indonesia yang diakui dunia kini," katanya kepada media di sela penyelenggaraan PAJB di Cirebon.

Yayasan Saung Angklung Udjo diketahui diberi kewenangan sebagai penyelenggara oleh Pemprov Jabar. Tahun ini, sebutnya, PAJB diikuti 44 peserta dari 17 kota/kabupaten. Tahun depan diharapkan seluruh daerah di Jabar yakni 27 kota/kabupaten berpartisipasi.

Angklung nyatanya kini tak cuma harum di tanah air. Menurut Dudi, setidaknya 21 negara dari berbagai benua telah mempelajari alat musik berbahan dasar bambu yang dibunyikan dengan cara digoyangkan ini.

"Asia paling banyak, seperti Tiongkok, Myanmar, Thailand, Korea Selatan, hingga Eropa seperti Jerman dan Belanda, Perancis. Di Jerman, orang-orang yang terlibat bahkan menamainya Angklung Padasuka karena orang-orang yang terlibat belajar angklung di Saung Udjo, Padasuka, Bandung, dan mereka terkenal di dunia," paparnya.

Harumnya angklung hingga dunia dianggap hal membanggakan. Karenanya, pihaknya mengharapkan seluruh pihak kelak lebih terlibat dalam upaya pelestariannya, termasuk dalam festival atau pasanggiri angklung.

"Dulu, angklung itu cuma alat pengusir hama yang kemudian berkembang jadi alat penghibur diri yang tak bernada seperti sekarang," katanya.

Konon, pada masa perang, angklung juga efektif menakuti musuh. Dari tak bernada, angklung selanjutnya diberi nada pentatonis sampai kemudian, seorang pendidik asal Kabupaten Kuningan, Daeng Soetigna, mengubah nada angklung dari pentatonis menjadi diatonis romantis.

Udjo, pendiri Saung Udjo, merupakan murid Daeng Soetigna. Berbeda dengan Soetigna yang menggunakan angklung sebagai alat pendidikan, Udjo menjadikan angklung sebagai seni pertunjukan melalui pendirian Saung Udjo pada 1967.

"Kala itu Udjo yakin angklung akan mendunia dan benar, kini angklung diakui dunia," tandas Dudi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon, R Agus S dalam kesempatan itu menyatakan, PAJB merupakan media peminatan dan upaya pelestarian angklung.

"Dari Kota Cirebon ada empat sekolah yang ikut PAJB hari ini (kemarin)," terangnya.

Sementara, dari hasil kemarin peserta yang menjadi juara terbaik 1 tingkat SMP yakni SMPN 5 Kota Cirebon, diikuti SMP Unggulan Indramayu, dan SMPN 15 Cirebon. Sedangkan untuk tingkat SMA secara berurutan yakni SMA 8 Kota Cirebon, SMKN 1 Majalengka, dan SMKN Indramayu.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini