Peneliti Muda RI Raih Penghargaan Bidang Kimia

Senin 21 Desember 2015 17:36 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 21 65 1272121 peneliti-muda-ri-raih-penghargaan-bidang-kimia-vAtdrQia2T.jpg Peneliti Indonesia meraih Early Chemist Award di Kongres Kimia Internasional di Hawaii, AS. (Foto: dok. Ali Khumaeni)

HAWAII - Enam peneliti dan dosen muda dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia meraih Early Chemist Award di Kongres kimia internasional Pasifik Basin di Honolulu, Hawaii, AS. Bersama 40 peneliti lainnya, karya penelitian mereka dinilai paling inovatif sepanjang 2015 dalam acara simposium terbesar bidang kimia dan ilmu spektroskopi di wilayah Asia Pasifik ini.

"Penerima penghargaan ini dipilih berdasarkan kebaruan makalah, pengalaman penelitian serta hasil publikasi di bidangnya," kata Ali Khumaeni, dosen fisika di Universitas Diponegoro, Semarang, Senin (21/12/2015).

Early Chemist Award merupakan penghargaan bagi para peneliti muda bidang kimia dan ilmu spektroskopi. Keenam peneliti dan dosen muda Indonesia itu adalah Ali Khumaeni (jurusan Fisika Universitas Diponegoro, Semarang), Sri Fatmawati (jurusan Kimia ITS Surabaya), Noviyan Darmawan (jurusan Kimia IPB), Lukman Hakim dan Aprilia Tasfiyati (Universitas Brawijaya), serta Dave Mangindaan (jurusan Teknik kimia Universitas Parahyangan, Bandung).

Dalam simposium Pacifichem 2015, yang berakhir Minggu, 20 Desember, Khumaeni membahas metode baru spektroskopi plasma laser (laser-induced breakdown spectroscopy) untuk analisis pengotor logam berat pada tanah "secara cepat dan hasil sensitivitas tinggi".

"Dengan metode baru ini, serbuk tanah tidak perlu dibuat pelet atau perlakuan sampel yang rumit," ujar Khumaeni.

Metode LIBS, menurutnya, saat ini telah berkembang pesat sebagai alat deteksi cepat kandungan unsur dan molekul dengan konsentrasi rendah pada berbagai material.

"Baik itu di bidang lingkungan, geologi, kesehatan, industri logam, industri farmasi, industri makanan, dan industri lainnya," katanya.

Sementara, Darmawan membawakan topik pembangkitan emisi fosforesensi daerah dekat-ultraviolet dari Iridium (III) kompleks. Adapun peneliti Fatmawati menyajikan hasil penelitian tentang penggunaan ekstrak berbagai tanaman Indonesia (obat tradisional Indonesia) untuk komplikasi antidiabetik.

Di hadapan tim penilai, Mangindaan menguraikan makalahnya tentang penggunaan polyimide membranes dehidrasi pervaporasi acetone. Wakil dari Universitas Brawijaya, Aprilia mengemukakan topik monolith berbasis polimer organik untuk pemisahan sampel DNA secara cepat, efisien, dan ramah lingkungan. Sedangkan Lukman Hakim mempresentasikan penelitiannya tentang penyimpanan hidrogen molekular pada struktur es yang terisi.

Pacifichem 2015 merupakan simposium terbesar bidang kimia dan ilmu spektroskopi khususnya di wilayah Asia Pasifik. Simposium yang berlangsung sejak 1984 ini dihelat setiap lima tahun sekali. Pada Pacifichem 2015 ini, ada lebih dari 18 ribu makalah dari 71 negara yang didaftarkan.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini