Hendak ke Disneyland AS, Keluarga Muslim Inggris Ditahan di Bandara

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Rabu 23 Desember 2015 12:10 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 23 18 1273376 hendak-ke-disneyland-as-keluarga-muslim-inggris-ditahan-di-bandara-Z85X9bwpfA.jpg Wahana bermain Disneyland (Foto: AFP)

LONDON – Otoritas Amerika Serikat (AS) menahan satu keluarga Muslim Inggris yang hendak terbang ke Negeri Paman Sam. Penahanan itu terjadi di Bandara Gatwick, London, pada 15 Desember. Keluarga tersebut diketahui hendak berliburan ke wahana permainan Disneyland di Los Angeles, AS.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menolak memberi penjelasan mengapa rombongan yang berisi 11 orang tersebut ditolak masuk ke pesawat yang akan membawanya. Padahal, keluarga tersebut sudah mendapat izin bepergian secara online.

Sebagaimana diberitakan The Guardian, Rabu (23/12/2015), seorang politikus senior Inggris sudah diberi tahu mengenai kasus ini. Dia memperingatkan kemungkinan semakin banyaknya Muslim Inggris yang dilarang bepergian ke AS tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu atau penjelasan. Asisten Perdana Menteri Cameron itu berjanji akan menyelidiki kasus tersebut secara lebih mendalam.

Kasus tersebut juga menjadi perhatian partai oposisi pemerintahan Cameron yakni Partai Buruh. Anggota parlemen asal Partai Buruh, Stella Creasey, yakin kurangnya informasi dari otoritas AS sebagai penyebab penahanan mereka di bandara. Hal itu ditakutkan oleh Creasey dapat memicu kebencian di kalangan Muslim Inggris terhadap AS.

Perempuan 38 tahun itu mengakui sedang menjalin kontak dengan satu orang lagi yang disebutnya pernah mengalami kejadian serupa. Creasy juga sudah mengirim surat secara pribadi ke PM Cameron.

Keluarga tersebut diketahui hendak mengunjungi kerabatnya di selatan California sebelum melakukan pelesiran ke Disneyland dan Universal Studio. Namun, mereka ditolak oleh otoritas AS saat berada di ruang tunggu keberangkatan.

Salah seorang anggota keluarga tersebut, Mohammad Tariq Mahmood, mengungkapkan alasan penolakan mereka sudah sangat jelas tanpa perlu adanya penjelasan. “Ini akibat serangan di Amerika. Mereka pikir semua umat Islam adalah ancaman berbahaya,” ujarnya.

Mahmood juga mendapat kabar buruk lain. Pihak maskapai menolak mengembalikan uang tiket senilai USD13 ribu atau sekira Rp182 juta. Mahmood beserta keluarga kakaknya juga diwajibkan mengembalikan seluruh barang yang mereka beli di bandara sebelum dikawal keluar Gatwick.

“Saya tidak pernah dipermalukan seperti ini sepanjang hidup saya. Saya tinggal di sini, bekerja di sini, memiliki usaha di sini, tetapi saya seperti diasingkan,” ujar Mahmood.

Ternyata kejadian serupa juga menimpa Muslim Inggris lainnya. Seorang ulama dan dosen asal Bristol, Ajmal Mansoor, juga dilarang terbang ke New York oleh otoritas AS di Gatwick pada 17 Desember.

Mansoor dalam Facebook-nya sadar bahwa AS punya hak untuk menerbitkan dan menolak visa. Jika hal tersebut terjadi pada orang biasa, Mansoor khawatir mereka akan marah. AS disebutnya tidak peduli dengan kemarahan tersebut.

Sementara Kedutaan AS di Kota London, Inggris, masih menolak berkomentar mengenai kedua penolakan tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini