nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Mahasiswa Keterbatasan Fisik Asal Indonesia Sukses di Inggris

Agregasi Pikiran Rakyat, Jurnalis · Rabu 23 Desember 2015 16:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 12 23 65 1273606 kisah-mahasiswa-keterbatasan-fisik-asal-indonesia-sukses-di-inggris-RpzXo0Q4sY.jpg Foto: Ilustrasi (Shutterstock)

MANCHESTER – Seorang mahasiswa Indonesia yang tengah menyelesaikan program doktoral di Kota Manchester, Inggris, bercerita bagaimana ia menghadapi ejekan dan kesulitan dalam meraih mimpi di tengah keterbatasan fisiknya.

‪Muhammad Zulfikar Rakhmat (22) melalui segmen #KabarDariInggris BBC bercerita bahwa sejak lahir mengalami ashpyxia neonatal yakni gangguan yang menyebabkan tidak bisa bicara lancar dan tidak dapat menggunakan kedua tangan untuk sejumlah aktivitas, termasuk menulis.

Saat ini Zulfikar tengah melakukan penelitian doktoral di Universitas Manchester tentang dampak perkembangan negara Asia terhadap perkembangan politik di Timur Tengah, setelah sebelumnya mengambil S-2 di universitas yang sama.

Zulfikar, yang pindah dari Indonesia ke Qatar saat berusia 15 tahun bersama kedua orangtuanya, meraih gelar sarjana dengan predikat terbaik di Universitas Qatar.

"Karena saya tidak bisa menulis dengan tangan, saya harus bawa laptop ke mana-mana. Tapi saya tidak pernah menganggap ini sebagai beban, jalani saja, pasti ada jalan. Tuhan tidak pernah membebani hambanya melebihi kemampuan mereka," kata Zulfikar.

Dia menambahkan, terkadang gaya bicaranya yang gagap membuat orang yang baru ditemui kesulitan memahami apa yang dikatakan. Tetapi, lagi-lagi selalu ada jalan untuk mengatasinya, seperti mengulang atau menjelaskan setelah pertemuan.

"Saya mengalami berbagai bullying, seperti ditertawakan, diejek, dikunci di kamar mandi, gerakan tangan saya yang 'aneh' diperagakan di depan kelas, dan lain-lain," cerita Zulfikar tentang ejekan dan cemoohan yang dialami saat masih tinggal di Indonesia.

Ejekan yang paling parah adalah ketika seseorang mempertanyakan kemampuannya untuk mencapai mimpi yang saya miliki. Saat itu dirinya memang sempat malas untuk sekolah karena takut.

Sosok dan nasihat sang ayah menjadi panutan Zulfikar dalam kehidupan sehari-hari.

"Tetapi, ayah saya selalu berpesan bahwa jika saya enggak mau sekolah, berarti saya membiarkan keterbasan saya menang. Satu-satunya jalan waktu itu adalah membuktikan bahwa kita tidak seperti apa yang mereka katakan dan lebih berharga dari apa yang mereka tertawakan," tuturnya.

Zulfikar mengatakan, sejak pindah ke Qatar, dia tidak merasakan bullying seperti yang didapati di Indonesia. Di sana, lanjut dia, semua saling memberi dukungan, dan tidak ada rasa tidak percaya terhadap mimpi yang dimiliki seseorang.

"Mereka percaya bahwa dalam kondisi apa pun seseorang bisa menggapai mimpinya jika ada semangat dan kerja keras," sebutnya.

Selain politik Timur Tengah dan Asia, Zulfikar juga tertarik pada ilmu komputer dan jurnalistik, dengan pengalaman menulis artikel di sejumlah media. (ira)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini