Dilarang ke Disneyland, Keluarga Muslim Dipermalukan di Bandara

Randy Wirayudha, Okezone · Kamis 24 Desember 2015 02:24 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 24 18 1273941 dilarang-ke-disneyland-keluarga-muslim-dipermalukan-di-bandara-QcovUmyQy9.jpg Pengamanan Bandara Gatwick yang diperketat dengan kehadiran petugas keamanan Amerika Serikat (Foto: Luke MacGregor/REUTERS)

WALTHAMSTOW – Sungguh nahas dialami sebuah keluarga muslim di Inggris. Tidak hanya rugi materi, keluarga Mohammed Tariq Mahmood juga sakit hati atas perlakuan petugas keamanan Amerika Serikat (AS) di Bandara Gatwick, London, Inggris.

Padahal, Mahmood dan seorang istri serta sembilan anaknya, sudah lama merencanakan pelesiran ke Disneyland di California, AS.

Saat itu, tepatnya 15 Desember 2015 lalu, keluarga Mahmood yang sudah lama menetap di Walthamstow, Inggris, ditahan petugas keamanan AS saat hendak boarding di ruang tunggu bandara.

Mereka hanya dikatakan tak mendapat izin untuk terbang ke California, tanpa penjelasan lebih lanjut. Kendati begitu, Mahmood sudah langsung sadar kenapa mereka dilarang ke AS.

“Itu karena serangan di Amerika (penembakan San Bernardino). Mereka berpikir bawha setiap muslim membawa ancaman,” cetus Mahmood kepada IB Times, Kamis (24/12/2015).

Lebih sialnya, setelah mereka dinyatakan tidak boleh terbang ke AS, 10 tiket pesawat mereka senilai sembilan ribu poundsterling atau sekira Rp183 juta, tak bisa di-refund pihak maskapai.

Jelas hal itu begitu mengecewakan. Anak-anak Mahmood pun remuk hatinya lantaran gagal ke Disneyland. “Anak-anak saya sangat terpukul. Mereka menangis karena rencana ini sudah dibuat berbulan-bulan lalu. Mereka pun menghitung hari di telefon selular mereka setiap hari,” tambahnya.

Ditambah lagi, kecurigaan berlebihan ditunjukkan petugas keamanan AS, saat Mahmood dan keluarganya digiring keluar ruang tunggu menuju sebuah toko, untuk kemudian diperintahkan mengembalikan barang-barang yang sebelumnya dibeli Mahmood.

“Saya tak pernah dipermalukan dengan amat sangat seperti ini dalam hidup saya. Saya bekerja di sini (Inggris). Saya punya bisnis di sini. Tapi kami malah diasingkan seperti ini,” cetus Mahmood.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini