nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemdikbud Tambah 25% Sekolah Pakai Kurikulum 2013

ant, Jurnalis · Senin 04 Januari 2016 19:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 01 04 65 1280578 kemdikbud-tambah-25-sekolah-pakai-kurikulum-2013-UdDEARYWFk.jpg Ilustrasi Foto: dok. Okezone.

JAKARTA - Penerapan kurikulum 2013 dilakukan bertahap hingga rampung pada 2020. Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pun membuka kesempatan sekolah yang belum menerapkan kurikulum 2013 untuk memakainya.

"Untuk tahun pelajaran 2016/2017, kami menargetkan ada sekitar 25 persen sekolah yang menerapkan kurikulum baru itu. Kemudian meningkat menjadi 60 persen pada 2017/2018 dan 100 persen pada 2019/2020," kata Mendikbud Anies Baswedan, Senin (4/1/2016).

Sekolah yang berencana menerapkan pengganti kurikulum 2006 itu, kata Anies, harus mengajukan diri untuk diverifikasi terlebih dahulu oleh Badan Aktivitas Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M). Sekolah yang lolos verifikasi akan ditetapkan sebagai sekolah pelaksana kurikulum 2013.

Anies menyebut, pada 2015 lalu, ada sekira 6.000 sekolah yang menjalankan Kurikulum 2013. Sekolah-sekolah itu menjadi perintis dan model dalam penerapan kurikulum baru.

"Kemudian dari sana mengembangkannya ke berbagai sekolah secara nasional yang merencanakan bertahap sampai tahun pelajaran 2019/2020," imbuhnya.

Mantan rektor Universitas Paramadina itu menambahkan, secara ide, kurikulum 2013 sangatlah bagus. Namun karena langsung diterapkan tanpa diuji terlebih dahulu serta diterapkan sebagai kurikulum nasional, maka mendatangkan banyak persoalan. Maka tak heran, banyak sekolah yang menolak penerapan kurikulum itu.

"Seharusnya kurikulum 2013 melalui empat tahap yakni evaluasi, pendadaran ide, penyusunan desain dan penulisan dokumen desain, serta penerapan kurikulum. Pada periode lalu, kurikulum 2013 hanya fokus pada dua tahap yakni pendadaran ide dan penerapan," tuturnya.

Saat ini, Kemdikbud juga melakukan berbagai upaya revisi terhadap kurikulum tersebut dengan melibatkan publik.

"Kami terbuka terhadap masukan dari seluruh pelaku pendidikan mulai dari siswa, sekolah, guru, ahli, orangtua dan lainnya. Dengan proses itu diharapkan lahir kurikulum nasional yang menimbulkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus menantang bagi siswa," pungkasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini