Refleksi Setahun Charlie Hebdo

Selasa 12 Januari 2016 19:41 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 12 18 1286561 refleksi-setahun-charlie-hebdo-PSMqbG2nZ4.jpg Foto: Reuters

LEBIH dari setahun silam terorisme Charlie Hebdo berlalu. Serangan terhadap kantor Charlie Hebdo menarik untuk dicermati. Serangan teroris yang menewaskan 12 orang tersebut (Januari 2015) merupakan tindakan barbar yang tak arif, terlalu emosional dan berpotensi mereduksi nilai agama.

Pelaku utamanya mengarah pada kakak beradik Cherif dan Said Kouachi dan Hamyd Mourad. Ketiganya adalah muslim. Memang, sejak awal Januari 2013, Charlie Hebdo membuat sensasi dengan menerbitkan komik Nabi Muhammad SAW.

Heboh komik ini memantik perhatian serius wakil Perdana Menteri Turki dan juga Sekjen OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu. Tahun 2012, Charlie Hebdo bahkan berulah lebih sadis yaitu dengan menerbitkan komik di mana Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok vulgar, erotis dan porno.

Kartun porno tersebut terinspirasi foto topless Kate Middleton. Charlie Hebdo bahkan pernah menyebut dirinya sebagai majalah syariah dengan mencantumkan nama Nabi Muhammad SAW sebagai redaktur, pada edisi khusus yang diberi nama Majalah Syariah Mingguan.

Provokasi Charlie Hebdo itu sempat membuat ketegangan antara umat Islam Perancis dengan tokoh-tokoh nasional Perancis seperti Perdana Menteri Francois Fillon, Menteri Dalam Negeri Claude Gueant serta tokoh sekuler Perancis dari berbagai partai.

Charlie Hebdo sebenarnya adalah majalah Atheis yang membawa komando pengingkaran terhadap Tuhan. Musuhnya tak hanya Islam tapi semua agama.

Di barat sendiri terdapat dua jenis fundamentalisme yaitu fundamentalisme Kristen dan Fundamentalisme pasar. Fundamentalisme Kristen mendasarkan diri pada konsep kebenaran mutlak teologi Kristen serta rasa khawatir akan kebudayaan asli Eropa yang tergerus nilai-nilai baru.

Nilai-nilai baru tersebut terbanyak direpresentasikan Islam melalui pusat kebudayaan serta imigrasi. Di Eropa kontemporer, Islam menjadi tawaran paling menarik di antara berbagai alternatif spiritual lain seperti Yoga dan Teosofi.

Islam juga mampu mereduksi peran gereja sejak tiga dekade terakhir ketika gereja dan sinagog beralih fungsi menjadi masjid. Sedang fundamentalisme pasar merasa dirugikan ketika nilai kapitalisme dan neoliberalisme mulai jatuh dan dikritik di barat.

Fundamentalisme pasar yang berjiwa Greco-romanum merasa terancam ketika humanisme Islam dan sistem ekonomi syariah booming di Eropa. Kota-kota besar Eropa sejak London, Paris sampai Belgia menjadi poros kultural bangkitnya nilai-nilai Islam. Fundamentalisme pasar bisa jadi dikembangkan dari nilai sekulerisme, bisa pula dari atheisme.

Charlie Hebdo jelas fundamentalisme berjiwa pasar. Charlie Hebdo memanfaatkan sentimen emosional tentang Islam sejak karikatur Nabi Muhammad SAW melanda Eropa beberapa tahun lalu.

Sentimen anti-Islam di Eropa memang ada, tapi uniknya tak semasif sentimen positif terhadap Islam. Sentimen terhadap Islam sebenarnya adalah kekhawatiran tentang ekspansi ekonomi para imigran yang merepotkan periuk penduduk asli.

Dunia Islam harus menyikapi secara positif penodaan agama oleh Charlie Hebdo dan bukan menyerang bak teroris. Kita harus berpikir positif dalam hal ini.

Kita harus teringat sabda nabi riwayat Tamim al-Dari yang berbunyi: “Allah tidak akan membiarkan rumah di kota-kota dan di desa-desa kecuali akan dimasuki oleh agama ini dengan kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina. Kemuliaan di mana Allah memuliakan Islam dan kehinaan di mana Allah menghinakan kekufuran” (H.R Imam Ahmad).

Boleh jadi Charlie Hebdo menghinakan Islam, tapi dengan itu Islam akan semakin berkembang. Dulu ketika Salman Rushdie menghina Islam melalui “The Satanic Verses”, Islam malah bertambah banyak dengan masuk Islamnya ribuan orang Inggris.

Begitupun ketika kasus WTC, terorisme dan karikatur nabi ala Jylland Posten. Islam malah semakin meledak dan berkembang pesat. Alquran menjadi buku best seller paling dicari setelah novel populer. Bagi umat Islam, hal ini menjadi semacam konsolidasi agar memperkuat ukhuwah dan keimanan.

Ketika Ayat-ayat Setan diluncurkan, muncul buku tandingan Ayat-ayat Tuhan menjawab Ayat-ayat Setan karya Dr. Syamsudin Al Fazi. Ketika muncul film “Fitna”, DR Quraish Shihab menjawab dengan penjelasan gamblang tentang ayat-ayat fitna yang diselewengkan.

Seperti itulah kita harus bersikap terhadap Charlie Hebdo, meski kartun Charlie Hedbo bukanlah karya ilmiah, bukan pula karya seni dan terlalu rendah untuk ditanggapi secara serius. Serangan para teroris terhadap awak media Charlie Hebdo sebenarnya lebih banyak merugikan citra Islam daripada meninggikannya.

Dua bulan lalu terorisme juga terjadi di Eropa. Kali ini lebih sadis, masif dan menimbulkan sentiment anti Islam berlebih. Peristiwa teror Paris ini harus menjadi renungan sendiri, karena bersamaan dengan itu, satu juta lebih imigran pengungsi dari Suriah dan Irak membanjiri Eropa.

Para pengungsi itu pun lari dari terorisme di negerinya. Jelas baik Timur maupun barat memiliki masalah sama yaitu terorisme. Maka, jutaan imigran itu sebenarnya harus lebih arif dalam membawa citra Islam di Negara-negara Eropa yang melindunginya. Begitupun dengan kita, dalam melihat terorisme yang dikaitkan-kaitkan dengan agama.

Penulis: Syarif Hidayat Santoso (Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember).

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini