nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kampung Boncos, Wilayah "Pelarian" bagi Pengguna Narkoba

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis · Senin 25 Januari 2016 10:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 01 25 338 1296173 kampung-boncos-wilayah-pelarian-bagi-pengguna-narkoba-McP7If6Na8.jpg foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Insiden tewasnya satu polisi dan satu informan polisi dalam penggerebekan narkoba di Kampung Berlan, Matraman, Jakarta Timur menguak kembali sisi kelam pengguna narkoba di Ibu Kota.

Lalu, banyak terlintas di pikiran orang, adakah yang namanya kampung narkoba di Ibu Kota? Jawabannya ada. Mungkin, bagi sebagian warga Jakarta, Kampung Ambon adalah kampung yang pertama kali terlintas ketika menyebut Kampung Narkoba. Sistem peredaran narkoba yang sudah rapi hingga menyentuh segala sektor di kampung yang terletak di Cengkareng, Jakarta Barat itu membuat stigma "Kampung Narkoba" sudah melekat di daerah yang memang banyak dihuni perawakan suku Ambon tersebut.

Namun, Kampung Ambon bukan satu-satunya daerah yang yang terkenal karena peredaran narkobanya. Di Kelurahan Kota Bambu Selatan, RW 03, Palmerah, Jakarta Barat, ada yang namanya Kampung Boncos. Kawasan ini tak kalah "nge-hits" dengan Kampung Ambon di Cengkareng jika berbicara soal peredaran narkoba.

Dari namanya, boncos selalu digunakan dalam istilah memancing, yang artinya apes atau tak dapat hasil dari kegiatan memancing. Sama halnya dengan peredaran narkoba, Kelurahan Kota Bambu, dalam istilah pengedar narkoba, adalah daerah tempat orang yang boncos atau tak dapat membeli satu narkoba di daerah tertentu.

Alhasil, kampung tersebut menjadi "pelarian" dari pengguna narkoba jika kepepet tak punya uang untuk membeli narkoba dalam skala yang besar. Hanya dengan Rp20-50 ribu saja, para pengguna bisa 'teler' karena narkoba.

Wilayah Kampung Boncos memang terkenal padat, 42 ribu meter persegi wilayah di daerah tersebut penuh sesak dengan hunian kumuh yang cocok sebagai tempat transaksi narkoba. Tak ayal, banyak jangkis atau pengguna narkoba yang tewas karena over dosis atau sakau di wilayah ini.

Kampung Boncos ini berdiri pada medio 1996, atau bertepatan dengan maraknya premanisme di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kala itu, beberapa preman hijrah ke Kampung Boncos dengan membawa narkoba jenis putau dan heroin. Bulan demi bulan, tahun demi tahun, pergerakan narkoba di kampung ini kian meluas dan membesar.

Peredaran narkoba di wilayah tersebut lambat laun semakin menggurita. Banyak pengguna narkoba memilih wilayah ini untuk teler menggunakan barang haram tersebut. Kampung Boncos yang mayoritas huniannya terbuat dari kayu dan triplek tersebut dikenal dengan "paket hemat" atau pahe dalam sistem jual beli narkoba.

Para bandar yang biasanya beredar mulai pukul 15.00 WIB hingga 03.00 WIB biasanya melayani pengguna-pengguna ekonomi lemah, dengan paketan kecil. Per pahe (Putau) dibanderol Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Takarannya yaitu 0,03 gram sampai 0,2 gram, namun biasanya banyak yang membeli senilai 0,05 gram.

Tak heran, maraknya peredaran narkoba makin memperluas penyakit menular seperti HIV/AIDS di kampung ini. Jarum suntik yang digunakan untuk teler biasanya digunakan secara bersamaan. Alhasil peredaran penyakit mematikan tersebut bisa sangat cepat.

Mengutip hasil penelitian salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS, sekira 95 persen pengguna jarum suntik terjangkit penyakit mematikan itu. Jadi tak heran, jika di wilayah tersebut, selain peredaran narkoba, juga berpotensi dalam peredaran penyakit mematikan HIV/AIDS.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini