nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Komunikasi Putar Otak Ikuti Isu LGBT

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis · Selasa 26 Januari 2016 00:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 01 25 65 1296769 mahasiswa-komunikasi-putar-otak-ikuti-isu-lgbt-SKcdwjr74B.jpg Pelangi menjadi simbol pergerakan kaum LGBT di dunia (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Salah satu risiko menjadi mahasiswa komunikasi pada peminatan jurnalistik adalah harus mampu melakukan wawancara hingga reportase untuk suatu topik tertentu, termasuk hal-hal tabu atau sensitif di kalangan masyarakat Indonesia. Pasalnya, poin tersebut akan berpengaruh terhadap nilai, bahkan untuk menentukan kelulusan.

Seperti yang dialami oleh seorang mahasiswa komunikasi bernama Rizka Noveranti. Meski baru mau memasuki semester keempat, dia sudah memiliki berbagai pengalaman menarik saat menjalani praktik wawancara untuk tugas kuliahnya.

"Di mata kuliah Creative Writing aku disuruh membuat majalah. Jadi, harus melakukan wawancara. Nah, waktu itu topik yang ditentukan adalah LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender)," ujarnya kepada Okezone, belum lama ini.

Menyadari topik LGBT cukup sensitif dalam budaya masyarakat Indonesia, mahasiswa di salah satu kampus swasta di bilangan Sudirman, Jakarta, tersebut harus putar otak untuk bisa mendapatkan narasumber yang cocok dan bersedia untuk diwawancarai.

"Untungnya tak sulit mendapatkan narasumber. Bahkan, mereka juga cukup ramah, dan bersedia menjawab pertanyaan yang saya ajukan," terangnya.

Pada saat wawancara, cewek yang akrab disapa Cika itu sempat merasa canggung dan takut salah bicara. Sebab, itu adalah kali pertama dia berinteraksi langsung dengan pelaku LGBT, apalagi untuk sebuah tugas kuliah.

"Enggak ada trik khusus, karena mereka sangat welcome, Tapi saya sebagai pewawancara tentu berusaha untuk tenang, sopan, dan ramah. Dan yang terpenting kita juga tidak boleh meremehkan mereka," ucapnya.

Ketika proses wawancara, kata Cika, dia banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan secara spontan. Hal tersebut lantaran dia juga merasa penasaran terhadap kehidupan juga perasaan para LGBT.

"Yang saya tangkap dari wawancara tersebut, selain jadi tahu tanggapan mereka (LGBT) secara langsung, juga sekaligus belajar sedikit tentang psikologi. Karena itu hanya untuk memenuhi tugas, saya juga tidak menanyakan hal-hal yang terlalu mendalam," tuturnya.

Cika mengungkapkan, hasil wawancara tersebut dia buat menjadi sebuah tulisan yang lebih fokus kepada LGBT, sehingga sama sekali tidak merugikan narasumbernya. Dia juga mengaku, wawancara tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjadi mahasiswa komunikasi.

"Sebenarnya hanya disuruh secara umum, tetapi saya beruntung mendapat narasumber yang lengkap, kecuali transgender karena waktunya tidak sempat. Ini kan untuk tugas, jadi beritanya juga tidak disebarluaskan. Saya juga bersyukur tugas tersebut tidak perlu revisi dari dosen lagi," tukas cewek yang bercita-cita bekerja di stasiun televisi itu. (ira)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini