nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perburuk Krisis Suriah, Menlu Inggris Pertanyakan Isi Kepala Putin

Randy Wirayudha, Jurnalis · Rabu 03 Februari 2016 00:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 02 02 18 1303303 perburuk-krisis-suriah-menlu-inggris-pertanyakan-isi-kepala-putin-WhfMY5hNOo.jpg Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Anthony Hammond (Foto: Muhammad Hamed/REUTERS)

ZAATARI – Lagi, Presiden Rusia, Vladimir Putin mendapatkan serangan verbal dari dunia barat. Kali ini datang dari Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris, Philip Hammond, terkait serangan-serangan Rusia yang justru dianggap memperburuk krisis Suriah.

Sebelumnya, Putin diserang lewat tuduhan keterlibatan pembunuhan eks-agen KGB (Dinas Rahasia Uni Soviet), Alexander Litvinenko. Tak lama kemudian, muncul lagi serangan lain soal korupsi Putin.

Saat mengunjungi kamp pengungsi Zaatari di Yordania, Hammond mengecam “kelakuan” militer Rusia yang terus membombardir oposisi Suriah hingga mendatangkan korban dari warga sipil, berbarengan dengan Rusia yang terus mendesak pembicaraan damai Suriah.

“Menjadi keprihatinan tersendiri buat saya, di mana semua hal yang kami lakukan dikacaukan oleh Rusia. Rusia bilang, ayo bicara, bicara dan bicara. Masalahnya, sementara Rusia mengajak bicara, mereka terus membom dan mereka mendukung (Presiden Suriah, Bashar) Al-Assad,” cetus Hammond.

“Sejak intervensi Rusia di Suriah, gelombang warga yang ingin kembali (ke Suriah) dari kamp ini terhenti atau mati. Malah timbul gelombang baru karena aksi Rusia di selatan Suriah, di sepanjang perbatasan beberapa kilometer dari sini,” imbuhnya, dikutip The Guardian, Rabu (3/2/2016).

Hammond kembali menekankan terhadap serangan-serangan Suriah, yang justru bukan membombardir ISIS, melainkan kubu oposisi yang juga memerangi organisasi teroris yang juga acap disebut ‘Daesh’ tersebut.

“Rusia bilang mereka ingin menghancurkan Daesh, tapi mereka justru membombardir oposisi moderat. Kurang dari 30 persen saja serangan Rusia yang mengenai target-target Daesh. Intervensi mereka malah memperkuat Daesh, sangat berlawanan dari apa yang mereka klaim,” lanjut Hammond.

Hammond pun mempertanyakan isi otak Putin, mengenai apa sebenarnya yang ingin “dimainkan” Kremlin, terlebih Rusia dan Iran diketahui paling lantang membela Assad untuk tetap melestarikan rezimnya.

“Yang saya pelajari tentang Putin semenjak jadi Menteri Pertahanan dan sekarang Menlu, semuanya bukan soal seberapa sering Anda mengamati, karena Anda takkan melihat apapun. Semuanya tak bisa diduga,” sambungnya lagi.

“Kami tidak tahu permainan Kremlin soal ini. Tidak ada pula dewan yang membicarakan tentang hal-hal seperti ini. Ini yang terjadi dalam kepala Putin. Saya juga tak merasa Iran bisa membantu proses perdamaian. Rusia dan Iran melindungi rezim Assad,” tandas Hammond.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini