nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta

Markus Yuwono, Jurnalis · Jum'at 12 Februari 2016 00:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 02 11 510 1309909 mengenal-pondok-pesantren-waria-di-yogyakarta-jigx7HFMsN.jpg Ketua Pondok Pesantren Al Fatah, Shinta (foto: Markus Y/Sindo Radio)

YOGYAKARTA - Pondok pesantren Al Fatah di Celenan, Kotagede, Yogyakarta memiliki ciri tersendiri. Seluruh santri di pesantren itu adalah waria. Dalam kesehariannya, para waria belajar ilmu agama di sana.

Waria dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti wanita pria; pria yang bersifat dan bertingkah laku seperti wanita; pria yang mempunyai perasaan sebagai wanita; wadam.

Ketua Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al Fatah Shinta Ratri mengungkapkan, ada 40 santri di sana. Para santri dari berbagai latar belakang pekerjaan mulai dari pengamen, pegawai salon, pelayan toko hingga pekerja di LSM.

"Pesantren sudah berdiri secara resmi sejak tahun 2008 lalu," kata Shinta saat ditemui di Pesantren Al Fatah, Kamis (11/2/2016).

Menurut dia, tak ada perbedaan antara Pesantren Al Fatah dan pesantren lain pada umumnya. Di mana para santri belajar mengenai agama Islam. Baginya, waria juga makhluk Tuhan yang berhak diperlakukan sama seperti warga lainnya, termasuk dalam hal beragama.

"Kita lihat waria itu jumlahnya banyak. di Indoneisia sebagian besar muslim. Nah pesantren ini memberikan ruang kepada waria untuk nyaman beribadah," kata waria yang mengenakan jilbab ini.

Dia mengakui, dalam beribadah di ruang publik seperti di masjid pada umumnya, waria akan bermasalah. Karena memang tidak semua orang bisa menerima keberadaan mereka yang 'berbeda'. "Pondok pesantren mengakomodasi teman-teman yang ingin dekat dengan Tuhan," ucapnya.

Di Pesantren Al Fatah, ada enam ustad yang membimbing para waria untuk mengenal agama. Pondok Pesantren Al Fatah menekankan tiga hal, yakni mendidik waria memahami agama Islam, mendidik masyarakat supaya tahu, mendorong pemerintah memberikan hak yang sama dengan warga negara lain.

"Di sini Belajar membaca alquran, membaca huruf arab, berbagi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari," urainya.

Dia berharap tidak ada lagi yang mempermasalahkan mengenai cara beribadah maupun perilaku hidup waria. Sebab menurut pandangannya, waria merupakan takdir yang tidak bisa ditolak setiap manusia yang dilahirkan.

"Menjadi waria itu bukan pilihan, menjadi waria itu sudah digariskan," katanya.

Disinggung cara beribadah, Shinta mengatakan, saat beribadah, para waria mendasarkan dari kenyamanan beribadah. Artinya yang nyaman pakai mukena mereka menggunakan mukena yang nyaman pake sarung ya sarung. "Berdoa tergantung Kenyamanan kekhusyukan saat berdoa. Doanya sama," katanya.

(ris)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini