nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi 'Ditantang' Reshuffle Menteri Gaduh

Regina Fiardini, Jurnalis · Minggu 06 Maret 2016 07:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 03 06 337 1328849 presiden-jokowi-ditantang-reshuffle-menteri-gaduh-7rYrAgVjb1.jpg Presiden Jokowi (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA - Dua pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakni Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli membuat gaduh hingga menjadi perbincangan publik. Keduanya bersitegang terkait dengan penempatan kilang gas Blok Masela.

Ketegangan para pembantu presiden itu ditanggapi santai oleh pengamat politik, Muhammad AS Hikam. Dia justru 'menantang' Presiden Jokowi untuk bisa mengambil sikap, bahkan kalau diperlukan menteri yang membuat gaduh sebaiknya di reshuffle.

"Mungkin Pak Jokowi dinilai publik harus berani melakukan percepatan kalau perlu, ya reshuffle saja," kata Hikam saat dihubungi Okezone, di Jakarta, Minggu (6/3/2016).

Sejumlah menteri menteri Jokowi memang kerap kali membuat gaduh, di antaranya Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno soal proyek kereta cepat, Menteri ESDM Sudirman Said dan Menko Bidang Kemaritiman Rizal Ramli soal Blok Masela dan sebelumnya soal proyek listrik.

Menurut Hikam, publik tentu berharap agar masalah tersebut tak menjadi tontonan bagi masyarakat. Supaya masalah tersebut cepat selesai, reshuffle terhadap orang yang bersangkutan mungkin bisa dilakukan.

"Kita sudah lihat siapa-siapa yang muncul di perhatian publik, tapi kan Pak Jokowi tahu jangan-jangan bukan hanya mereka saja yang menjadi masalah, kita itu kan suka melihat masalah di level permukaan ada Sudirman Said, Rini Soemarno, Rizal Ramli, tapi kita tidak pernah tahu sebetulnya di dalamnya itu siapa yang lebih serius," ujar Hikam.

Kegaduhan yang terjadi bukan hanya satu dua kali dianggap wajar oleh Hikam. Pasalnya, semenjak satu tahun lalu Jokowi menjabat sebagai pemimpin, dirinya kerap mendapat tekanan dari pendukung politiknya baik itu pendampingnya, Jusuf Kalla, maupun ketua umum partai pengusungnya, Megawati Soekarnoputri dan Surya Paloh.

"Jadi memang itu persoalan yang sedang dibereskan oleh Pak Jokowi, karena sejak Beliau masuk setahun yang lalu kan memang tidak ideal ya komposisi dalam istana ini, kan seolah-olah Pak Jokowi tidak mempunyai satu tim yang kuat, kontrol dari pendukung politiknya misal PDIP, Jusuf Kalla, Surya Paloh dan lain lain itu sangat kuat. Kemudian Pak Jokowi mencoba untuk mengimbangi itu, memasukkan misal Luhut Binsar Panjaitan, RR (Rizal Ramli), Teten Masduki, Johan Budi," pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini