Image

Transformasi Kampus demi Pendidikan Tinggi Kelas Dunia

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis · Kamis, 17 Maret 2016 - 15:19 WIB
Salah satu sudut kampus Universitas Prasetiya Mulya. (Foto: Rifa NN/Okezone) Salah satu sudut kampus Universitas Prasetiya Mulya. (Foto: Rifa NN/Okezone)

SERPONG - Beberapa kampus belakangan memilih bertransformasi menjadi sebuah universitas. Salah satu yang terbaru adalah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Prasetiya Mulya yang kini berubah nama menjadi Universitas Prasetiya Mulya.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menjelaskan, saat ini masyarakat Indonesia memasuki era kompetisi global. Sehingga, dibutuhkan universitas-universitas berkelas dunia yang mampu mencetak tenaga kerja profesional.

"Kami tidak membedakan perguruan tinggi negeri dan swasta. Semua didorong mampu masuk kelas dunia atau kalau tidak, Indonesia akan ketinggalan dengan negara lain," ujar Nasir dalam peluncuran Universitas Prasetiya Mulya di ICE Serpong, Tangerang, Kamis (17/3/2016).

Nasir mengungkapkan, sejak 2016, sudah ada sekira lima perguruan tinggi yang bertransformasi menjadi universitas. Kendati demikian, perubahan nama setiap kampus tidak serta-merta dilakukan dengan mudah, melainkan ada proses dan syarat yang harus dipenuhi.

"Seingat saya ada lima, satu di Yogyakarta, tiga di Jakarta, di luar Jawa ada satu. Dengan Universitas Prasetiya Mulya ini berarti sekira enam. Kalau syarat, jelas ada," terangnya.

Beberapa syarat yang wajib dipenuhi kampus, sebut Nasir, adalah harus memiliki program studi (prodi) minimal 10. Kemudian, dari 10 prodi tersebut, mimimal enam di antaranya merupakan bidang eksakta. Sedangkan untuk berubah menjadi universitas, perguruan tinggi terkait melakukan pengajuan kepada pemerintah melalui Kemristekdikti.

"Nanti saya harap ada yang fokus di teknik, entrepreneur, riset, kesehatan, dan sebagainya. Perguruan tinggi swasta (PTS) harus mau berinovasi, sedangkan pemerintah hanya menjadi pendamping. Bahkan setelah diberi izin, mereka juga tetap diawasi dan dievaluasi," tuturnya.

Mantan Rektor Terpilih Universitas Dipenogoro (Undip) itu menambahkan, pengawasan dilakukan dengan menyiapkan delapan tim yang siap berkeliling untuk mengontrol kampus swasta di Tanah Air. Perguruan tinggi juga harus melaporkan hasil evaluasinya di samping yang sudah tersedia di pangkalan data Dikti.

"Kalau dulu ada yang bermasalah sistemnya diberi peringatan afau surat kemudian dicabut izinnya. Sekarang bukan begitu, tetapi pembinaan, jadi pembinaan, pengawasan, dan pengendalian," tukasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming