Image

Perguruan Tinggi Jangan Jadi Penonton Pasar Bebas

ant, Jurnalis · Kamis 17 Maret 2016, 18:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 03 17 65 1338531 perguruan-tinggi-jangan-jadi-penonton-pasar-bebas-V2sT7cOsnN.jpg Ilustrasi: Shutterstock

TANGERANG - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyatakan perguruan tinggi jangan jadi penonton di negeri sendiri dalam menghadapi persaingan pasar bebas.

"Tapi harus mampu memberikan persaingan, inovasi, meningkatkan kualitas serta mampu bersaing pada percaturan bisnis dunia," kata Mohamad Nasir pada acara peresmian Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Prasetiya Mulya menjadi Universitas Prasetiya Mulya di Kawasan Serpong, Tangerang, Banten, seperti dilansir Antara, Kamis (17/3/2016).

Nasir mengatakan, saat ini terdapat 134 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan sekira 4.200 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia. Keberadaan ribuan perguruan tinggi ini, kata Nasir, harus menjadi pendorong perubahan kemajuan teknologi dan memantapkan bisnis. Apalagi pasar bebas tidak saja berlaku di tingkat ASEAN, melainkan Asia dan Eropa.

"Jangan hanya menjadi ladang bisnis, tetapi perguruan tinggi harus mampu melahirkan inovasi, kreativitas, dan daya saing pada pasar bebas. Sebagai contoh, perguruan tinggi di Singapura telah menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa dan Jepang," tuturnya.

Perguruan tinggi juga perlu membuka program bisnis pariwisata yang bukan hanya mengurus perhotelan atau perjalanan tapi lebih dari itu agar terbuka lebar peluang usaha terhadap lingkungan sekitar. Menurut dia, Kemristekdikti terus mendorong Dewan Riset Nasional pada tujuh bidang yakni pangan dan pertanian, kesehatan obat-obatan, informasi dan komunikasi, transportasi, teknologi pertahanan, energi terbarukan serta kemaritiman.

Dia mengharapkan agar pengelola Universitas Prasetiya Mulya memperhatikan mahasiswa yang kurang mampu dalam hal ekonomi agar dapat menempuh pendidikan hingga selesai.

"Bila perlu memberikan beasiswa kepada mereka apalagi terhadap mahasiswa yang berprestasi tapi orangtuanya tidak mampu," katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Prasetiya Mulya Prof Djisman Simandjuntak mengatakan, perubahan STIE menjadi universitas berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menristekdikti No.87/KPT/I/2015. Djisman menjelaskan, sejalan dengan fenomena yang terjadi secara global, Indonesia mulai memerlukan reformasi pola pendidikan maka universitas harus menjadi katalisator untuk kehidupan yang lebih baik, tidak saat ini, tapi juga masa depan. Untuk itu, dia ingin mempelopori reformasi tersebut melalui kolaborasi antardisiplin ilmu dan saling melengkapi satu sama lain.

"Dimulai dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kami terus mendorong munculnya wirausahawan, terlebih dengan semakin ketat persaingan tenaga kerja dan pasar pascaMEA, profesional dan wirausahawan di Indonesia dituntut untuk bisa memproyeksikan atmosfer bisnis masa depan," papar Djisman.

Pengelola Universitas Prasetiya Mulya berencana membuka sembilan program studi untuk Strata Satu (S-1) yakni bisnis pariwisata, hukum bisnis internasional, enonomi bisnis, matematika bisnis, perangkat lunak teknologi, teknologi komputer, produk rancang teknologi, teknologi pangan dan energi teknologi.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini