nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

11 Negara Berbagi Pengalaman Bahas Energi Nuklir

Prabowo (Okezone), Jurnalis · Selasa 22 Maret 2016 22:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 03 22 18 1343187 11-negara-berbagi-pengalaman-bahas-energi-nuklir-1N4l4xv90g.jpg (Ki-Ka) Perwakilan IAEA Syahril, Deputi Bidang Energi Nuklir BATAN Taswanda Taryo, spesialis teknologi nuklir IAEA Harikhrisnan Tuisidas. (Foto: Prabowo/Okezone)

YOGYAKARTA – Indonesia menjadi tuan rumah dalam pertemuan International Atomic Energi Agency (IAEA). Sebanyak 11 negara hadir menggelar pertemuan tentang Conducting the Comprehensive Management and Recovery of Radioactive and Associated Mineral Resource.

Pertemuan itu berlangsung selama tiga hari ke depan, mulai hari ini hingga 25 Maret 2015 di Hotel Hyatt, Yogyakarta. Ke-11 negara itu ialah Indonesia, Tiongkok, Yordania, Malaysia, Mongolia, Pakistan, Iran, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Srilangka.

"Pertemuan ini sangat penting untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan mineral radioaktif di masing-masing negara," kata Taswanda Taryo, Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada wartawan, Selasa (22/3/2016).

Berdasarkan hasil eksplorasi, sumber daya uranium dan thorium tersebar di berbagai wilayah, seperti di Kepulauan Bangka Belitung, Kab Mamuju Sulawesi Barat, Sibolga Sumatera Utara, dan Biak Papua.

"Mamuju merupakan daerah prospek yang sangat potensial untuk dikembangkan. Potensi sumber daya uranium di seluruh Indonesia saat ini mencapai 70 ribu ton U3OP, dan Thorium 125 ribu ton per tahun," katanya.

Menurutnya, Indonesia sudah menguasai teknologi eksplorasi, penambangan dan pengelolaan uranium skala pilot dengan kapasitas 2 ton/hari yang pernah dilakukan di daerah prospek Kalan, Kabupaten Melawai, Kalimantan Barat.

"Kita juga sudah kuasai teknologi pemisahan uranium dan thorium dari mineral ikutan radioaktif, yakni pasir monasit," katanya.

Monasit merupakan hasil samping dari kegiatan pertambangan timah di Pulau Bangka. Teknologi tersebut telah diterapkan pada pilot plant pengembangan logam tanah jarang, dan telah dibangun pada 2015 di PT Timah, Pulau Bangka.

Kegiatan penelitian dan pengembangan pada eksplorasi, penambangan dan pengelolaan uranium dan thorium, merupakan bagian dari dukungan program rencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), jika terwujud. 

Sementara logam tanah jarang juga bagian dari monasit, sangat dibutuhkan sebagai magnet untuk industri elektronik dan mesin.

"Bicara nuklir yang ditakutkan itu radiasi. Tapi sebenarnya tidak masalah karena sudah diantisipasi, dan radiasi itu hanya ada di tempat pengelolaan itu, bukan kawasan sekitarnya," jelasnya.

Dia mengaku untuk pembangunan PLTN butuh waktu lama, sekira delapan tahun. Sehingga, ada nuansa politis kenapa Indonesia saat ini belum melakukan pembangunan PLTN.

"Pembangunan PLTN itu kental nuansa politis, tidak bisa hanya tiga tahun selesai. Sarana dan prasarana pendukung itu juga perlu dibangun," katanya.

Menurutnya, Indonesia tidak bisa membangun sendiri PLTN. Butuh kerjasana dengan negara lain dalam pembangunan. Sehingga, pertemuan dengan berbagai negara ini sangat baik untuk menggali potensi sumber daya mineral radioaktif dalam mendukung kedaulatan energi.

Menurutnya, pertemuan selama tiga hari ini untuk mendapat masukan dari IAEA tentang bagaimana pemanfaatan teknik energi nuklir. Selain itu, supaya sumber daya alam dapat dikelola secara berkesinambungan.

Perwakilan Bagian Teknik IAEA, Syahril mengatakan, pihaknya hanya memberi bantuan teknis yang diperlukan negara anggota dalam mengelola energi nuklir. Pihaknya tidak bisa mendikte negara lain dalam mengelola energi nuklir.

"Kita dorong kerjasama antarnegara dalam mengelola energi nuklir. Selain itu, memberi masukan dalam pembangunan dan infrastruktur energi nuklir," katanya.

Sementara menurut Hariskhriahnan Tulsidas, spesialis teknologi nuklir IAEA menyampaikan, Indonesia cukup potensi dalam mengembangkan energi nuklir. Butuh komitmen yang kuat dari pemerintah dan semua pihak dalam mengembangkam PLTN di Indonesia.

"Saya pikir, Indonesia sudah cukup siap dalam mengembangkan teknologi nuklir. Banyak negara sudah memulai mengembangkan energi nuklir untuk energi dan industri," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini