nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marak Flu Burung, Pemkab Mojokerto Periksa Kesehatan Unggas

Zen Arivin, Jurnalis · Selasa 22 Maret 2016 14:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 03 22 519 1342704 marak-flu-burung-pemkab-mojokerto-periksa-kesehatan-unggas-YCmNc3WiWX.jpg Peternakan di sentra unggas di Mojokerto (Zen Arivin/Okezone)

MOJOKERTO - Mulai merebaknya virus flu burung di beberapa daerah, membuat Pemkab Mojokerto melakukan langkah pecegahan, yakni dengan melakukan rapid test di berbagai daerah yang menjadi sentra peternakan unggas.

Seperti yang dilakukan di kandang milik Subagio (65) di Desa Mojokumpul, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Beberapa petugas terlihat melakukan pengecekan dengan mengambil beberapa sampel ayam.

"Hari ini kita lakukan rapid test di beberapa tempat untuk mengetahui apakah ada indikasi flu burung. Mengingat saat ini virus itu sudah banyak ditemukan di beberapa daerah," ujar Kasi Pencegahan, Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto,

Tutik Suryanidiyah, di lokasi, Selasa (22/3/2016).

Pengecekan juga dilakukan karena Dinas Peternakan dan Perikanan menerima laporan adanya beberapa ekor ayam yang mati di sentra penternakan itu. "Laporannya ada rata - rata ada 30 ekor unggas yang meninggal setiap harinya, makanya kita lakukan test ini," tambahnya.

Menurut Tutik, ada 20 ribu ekor unggas di peternakan itu. Dari beberapa sampling yang diambil, tidak ditemukan adanya virus H5N1 itu. "Hasilnya semuanya negatif. Tadi sama - sama kita lihat bahwa hasilnya hanya satu strip. Kalau muncul dua strip maka positif," jelasnya.

Alat yang digunakan untuk rapid test unggas ini, lanjut Tutik memang khusus untuk mendeteksi virus flu burung. Sehinga, bisa dipastikan tingkat akurasinya. "Alat itu hanya untuk mendeteksi virus H5N1, sehingga sangat akurat," terangnya.

Terkait dengan adanya kematian unggas yang setiap harinya mencapai 30 ekor, Tutik mengatakan bahwa hal itu bukan lantara virus flu burung. Melainkan penyakit Poli yang disebabkan karena cuaca ekstrem yang terjadi sejak Januari lalu.

"Kalau flu burung itu, satu kandang bisa habis semua. Tapi kalau kematian masih 30 ekor sementara jumlahnya 20 ribu ekor, maka itu masih normal," paparanya.

Kendati demikian, Tutik mengimbau, agar para peternak unggas untuk ekstra waspada. Karena bukan tidak mungkin virus flu burung merembet ke wilayah Mojokerto. Pasalnya, di beberapa tahun lalu, virus tersebut pernah menyerang daerah Kabupaten Mojokerto. "Tahun 2006 lalu pernah ada virus ini. Makanya, harus waspada. Caranya, dengan membatasi keluar masuknya orang ke dalam kandang," pungkasnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini