nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wartawan Perancis Ditahan saat Pengadilan Kejahatan Perang PBB

Puti Anggraini Fanfudi, Jurnalis · Senin 28 Maret 2016 23:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 03 28 18 1347667 wartawan-perancis-ditahan-saat-pengadilan-kejahatan-perang-pbb-bazNQE82S6.jpg Hartmann saat ditangkap petugas keamanan dan polisi Belada saat pengadilan. (Foto: The New York Times)

DEN HAAG - Petugas keamanan di Pengadilan Kejahatan Perang PBB menerima permintaan luar biasa dari presiden pengadilan. Mereka ditugaskan untuk menangkap Florence Hartmann, wartawan Prancis yang saat itu berada di luar gerbang pengadilan bersama orang-orang yang selamat dari perang Bosnia.

Penangkapan tersebut terjadi pada Kamis 24 Maret 2016 sebelum vonis genosida terhadap Radovan Karadzic, mantan pemimpin Serbia Bosnia diputuskan.

Para petugas berhasil menahan Hartmann dengan bantuan polisi Belanda. Para korban yang selamat dari perang Bosnia pun telah berusaha untuk melindungi wartawan Negeri Mode tersebut, namun usaha mereka mendapat perlawanan dari polisi Belanda.

Sejak saat itu, mantan koresponden media Le Monde tersebut ditahan selama tujuh hari di penjara pengadilan yang terletak di tepi Den Haag, Belanda. Penahanan tersebut dilakukan untuk melayani hukuman yang tertunda atas tuduhan menghina keyakinan pengadilan pada 2009.

“Hartmann sekarang berada di ruang isolasi dan ia tidak dapat berbaur baik dengan tersangka kejahatan perang maupun dengan narapidana lain,” kata sang pengacara, Guenael Mettraux, dilansir dari The New York Times, Senin (28/3/2016).

Dalam penjaranya, Hartman diawasi ketat untuk mencegah dia bunuh diri. Pengawasan tersebut dilakukan dengan menyalakan lampu selama 24 jam sehingga petugas dapat memeriksanya setiap 15 menit.

“Saya tidak mengerti mengapa seorang wartawan diperlakukan dengan cara seperti itu, sedangkan prosedur tersebut merupakan standar pengawasan bagi para penjahat perang,” tukas Mettraux.

Hartmann dihukum karena telah menulis buku dan artikel yang dianggap menghina pengadilan perang Yugoslavia pada 2009 di Gedung Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.

Saat itu ia menulis tentang bagaimana hakim pengadilan sepakat bahwa catatan sensitif yang disediakan Serbia dapat digunakan dalam sesi tertutup pengadilan, tetapi tidak boleh diketahui publik.

Hartman mengaku tidak mengungkapkan isi catatan itu, namun ia mengatakan bahwa korban memiliki hak untuk mengetahui kesepakatan yang membuat mereka diberi kepercayaan.

Hartmann juga dituntut dan dihukum karena dianggap mencuri keputusan rahasia hakim sebagai referensi artikel yang dianggap mengandung unsur penghinaan tersebut. Ia awalnya dijatuhi sanksi berupa denda sebesar tujuh ribu euro atau sekira Rp103 juta.

Namun hukuman terebut diubah menjadi hanya tujuh hari penjara. Hal tersebut terjadi karena dia mengatakan sumber tersebut ia curi dari dari beberapa sumber di Serbia dan sama sekali tidak mencuri data pengadilan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini