nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Uni Eropa Pilih Lima Kampus Indonesia untuk Proyek Indoped

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis · Selasa 12 April 2016 16:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 04 12 65 1360805 uni-eropa-pilih-lima-kampus-indonesia-untuk-proyek-indoped-UzOSPQrgfg.jpg Tri A Budiono bersama Harri Lappalainen dalam konferensi pers di Binus University International. (Foto: Iradhatie W/Okezone)

JAKARTA – Lima institusi pendidikan di Eropa bersama enam institusi pendidikan sedang mengembangkan program Indoped, yakni sebuah proyek yang didanai Uni Eropa (EU) untuk mengakomodasi pengembangan pendidikan, baik di dalam negeri maupun Eropa. Tak tanggung-tanggung, guna mendukung proyek tersebut, Uni Eropa menggelontorkan dana sebesar 1 juta euro untuk tiga tahun ke depan.

Dari enam institusi pendidikan Indonesia, lima di antaranya merupakan kampus, baik negeri maupun swasta. Adapun kampus tersebut adalah Binus University International (BUI), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Widya Mandala Katolik (UWMK), dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Sedangkan satu institusi lainnya adalah Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC).

Head of Indoped Project Harri Lappalainen menjelaskan, ada alasan tersendiri lima kampus tersebut dilibatkan dalam proyek ini. Dia mengungkapkan, setiap kampus itu memiliki karakteristik berbeda.

"Ada dua alasan mendasar mengapa kami memilih lima kampus tersebut. Pertama, tipe kampus yang berbeda; dan kedua, menyangkut wilayah," tuturnya dalam konferensi pers Opening Ceremony Indoped di Binus University International, di Jakarta, Selasa (12/4/2016).

Di UIN Syarif Hidayatullah, ucap Harry, merupakan kampus yang berlatar belakang agama Islam. Sebaliknya pada UWMK berlatar belakang Katolik. Sedangkan UNY merupakan salah satu kampus negeri ternama di Tanah Air.

"Binus University International sudah menerapkan metode pembelajaran student center learning. Sedangkan Unsyiah adalah universitas negeri yang keislamannya juga kuat," paparnya.

Dengan keberagaman tersebut akan mudah menemukan kebutuhan setiap kampus berikut metode yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pada proyek Indoped sendiri, lanjut Harry, terdapat dua area yang akan diperkuat, yakni cara belajar-mengajar dan hubungan antara universitas dan industri.

"Karena ini proyek riset, maka diselesaikannya melalui riset. Sejak diterapkan Oktober lalu, ada beberapa temuan berbeda setiap kampus. Misalnya untuk UIN yang harus ditingkatkan adalah hubungan dengan industri. Di Unsyiah, mahasiwanya masih belum percaya diri, kemampuan bahasa juga harus ditingkatkan. Kalau di UNY, sudah baik hanya perlu perbaikan pada bidang multidisipliner. Nah, dari situ akan terlihat untuk pengembangan metode selama tiga tahun ke depan," tutur Director Academic Development Binus University International, Tri A Budiono. (ira)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini