nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Parlemen Ukraina Lantik Perdana Menteri Baru

Silviana Dharma, Jurnalis · Kamis 14 April 2016 21:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 04 14 18 1363273 parlemen-ukraina-lantik-perdana-menteri-baru-Qi8ADmkI08.jpg Volodymyr Groysman, Perdana Menteri Ukraina sejak 14 April 2016. (Foto: Reuters)

MOSKVA – Parlemen Ukraina baru saja melantik perdana menteri (PM) baru melalui sistem pengambilan suara, mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh PM Arseniy P. Yatsenyuk, yang mengundurkan diri karena krisis politik dalam negerinya.

Berdasarkan hasil voting, posisi Yatsenyuk digantikan oleh Volodymyr B. Groysman, pria penganut Yahudi yang dikenal sebagai sekutu terdekat Presiden Ukraina Petro O. Poroshenko. Secara keseluruhan, ia memenangkan 257 dari 307 suara di parlemen.

Dilansir dari New York Times, Kamis (14/4/2016), hasil ini diharapkan membantu Groysman mengatur berbagai keriwehan politik yang kompleks di Ukraina. Meskipun, para pengamat politik setempat meragukan PM baru mereka ini memiliki tunggangan politik yang kuat dibandingkan dengan para pendahulunya.

Ia juga diragukan dapat segera memenuhi janjinya untuk mempercapat dan meningkatkan kualitas reformasi di Kiev dengan meningkatkan kerja sama yang baik antara eksekutif dan legislatif.

“Memberantas korupsi, melawan populisme dan meningkatkan pengelolaan negara akan menjadi prioritas saya dalam menjalankan pemerintahan ini,” demikian janjinya sebelum disumpah.

Dengan demikian pemerintahan Groysman akan berfokus pada perbaikan dalam negeri, alih-alih mengurus konflik dengan Rusia.

Selain Groysman, perombakan di tubuh pemerintahan Ukraina juga terjadi di tingkat kementerian. Menteri keuangan Natalie Jaresko digantikan oleh Oleksandr Danyliuk, mantan konsultan senior di Perusahaan McKinsey & Company, yang sejak 2005 sudah sering dimintai pendapatnya oleh pejabat tinggi Ukraina.

Perombakan kabinet di Ukraina mendapat perhatian yang tinggi dari negara-negara barat, termasuk Amerika Serikat yang telah memperbanyak militernya di sepanjang perbatasan pecahan Soviet itu dengan Rusia.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini