Melirik Prostitusi Kalangan Pelajar di Lhokseumawe Aceh

Agregasi Waspada Online, · Minggu 17 April 2016 12:51 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 17 340 1365005 melirik-prostitusi-kalangan-pelajar-di-lhokseumawe-aceh-fQmBq3rKDW.jpg foto: waspada

ACEH - Prostitusi pelajar di Lhokseumawe melibatkan siswi SLTA bahkan SLTP. Umumnya, mereka berasal dari keluarga yang berantakan dan terpengaruh lingkungan bergaya hedonis.

Malam segera menanjak, dinginnya malam seakan menghangat di salah satu cafe di kawasan Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Beberapa perempuan berkulit putih asyik mengobrol. Sesekali melihat ke kiri dan kanan sambil melempar senyum.

Mestinya menjelang tengah malam begini, anak dara tidak lagi berkeliaran. Tapi mereka bukan dara biasa. Mereka sengaja mangkal di sekitar cafe untuk mencari penghasilan dengan mengaet pria-pria hidung belang.

Jangan bayangkan anak dara ini tampil dengan riasan menor, dada terbuka, dan rok mini. Pakaian mereka tak beda dengan gadis-gadis Aceh pada umumnya, yakni berjilbab dan mengenakan jeans. Ketika ada pria mendekat, mereka menyambutnya akrab. Senyum sumringah membuat mereka tampak memesona. Seorang di antaranya lantas menyapa, “apa kabar bang"?

Sebut saja namanya Rindu (bukan nama sebenarnya), dia masih murid SMA di Lhokseumawe. Hidungnya mancung, tingginya sekitar 155cm. Malam itu, tubuh langsingnya dibalut kemeja dan celana jeans.

Rindu mengaku sudah setahun terjun ke dunia gelap itu. Kecewa kepada pacar menjadi pemicu. Saat berpacaran, ia beberapa kali melakukan hubungan intim, seiring sang pacar ketahuan selingkuh dengan perempuan lain.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, ia beranggapan dirinya sudah tidak lagi perawan sehingga bisa melakukan hubungan seksual dengan siapa saja. Baginya paling penting dibayar sesuai tarif.

“Coba abang bayangkan, aku sudah tak perawan lagi. Kalau pun diam aja, perawan aku kan nggak bisa balik juga. Lebih bagus begini sajalah, setiap ada tamu aku dibayar,” ujarnya polos baru-baru ini, dilansir dari Waspada Online.

Dia juga mengaku tidak mencari kepuasan, semuanya semata demi uang untuk memenuhi gaya hidup. Tarif berkencan dengannya bervariasi, short time Rp300 ribu, long time Rp1-1,5 juta. Biasanya, pelanggan membawanya ke hotel dan rumah kos. Kadang bisa berlangsung di tempat lain, seperti mobil dan tempat yang dianggap aman. Dirinya juga sering diajak ke Medan dan menginap di salah satu hotel berbintang.

Kepala Satpol PP dan Waliyatul Hisbah (WH) Kota Lhokseumawe, Irsyadi, menyatakan aktivitas PSK di Lhokseumawe terselubung. Dikatakan, umumnya para gadis itu terjun ke dunia gelap disebabkan keluarga broken home.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini