Populasi Babi Meningkat, Warga Diminta Waspada Virus Radang Otak

Solichan Arif, Koran SI · Selasa 26 April 2016 19:37 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 26 519 1373380 populasi-babi-meningkat-warga-diminta-waspada-virus-radang-otak-riKV5DPygH.jpg Ilustrasi (Okezone)

TULUNGAGUNG - Meningkatnya populasi ternak babi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur berpotensi menyebarkan virus japanese encephalitis (JE). Virus yang bisa mengakibatkan radang otak pada manusia itu bisa berkembang biak pada babi.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Didik Eka mengatakan, pihaknya telah menerjunkan sejumlah petugas untuk melakukan pengambilan sampel darah babi. Hal itu untuk memastikan apakah ternak babi di Tulungagung terkontaminasi virus JE atau tidak.

“Pengambilan sampel darah dilakukan tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Pengedalian Penyakit Bersumber Binatang, “ujar Didik kepada wartawan, Selasa (26/4/2016).

Petugas kesehatan mendatangi sejumlah kandang babi yang tersebar di empat kecamatan yakni Ngantru, Ngunut, Kedungwaru dan Sumbergempol.

Tercatat dari 2015, populasi ternak babi di Tulungagung meningkat pesat hingga 10 ribu ekor. Padahal tahun sebelumnya populasinya hanya 2 ribu ekor dengan jumlah peternak 32 orang. Informasi yang dihimpun, sebagian besar babi dari Tulungagung dikirim ke luar daerah.

Secara medis, kata Didik Eka penularan virus JE ke manusia tidak langsung melalui babi, tapi bisa lewat nyamuk culex atau nyamuk selokan yang menggigit babi yang terjangkit virus JE. Nyamuk ini akan menjadi penular (vektor).

“Secara medis vektor-nya nyamuk. Sedangkan hewan babi merupakan reservoir atau sumber infeksi, “ terangnya.

Virus ini menyerang susunan pusat syaraf. Pada kondisi terparah, serangan virus bisa berujung pada kelumpuhan dan kematian.

Menurut Didik, tim medis akan membawa sampel darah untuk uji laboratorium. “Harapan kita tidak ada ternak yang terjangkit. Kendati demikian kita berharap masyarakat untuk mewaspadainya, “pungkasnya.

Menanggapi hal ini aktivis Pusat Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Imam Ma’ruf meminta dinas terkait untuk menggencarkan sosialisasi.

Sebab faktanya tidak banyak warga mengetahui fenomena yang rawan memancing keresahan sosial ini. “Ini harus disosialisasikan dengan sungguh sungguh. Sebab terlepas dari adanya penyakit yang berpotensi menular ke manusia, ternak babi sendiri sudah rawan memicu permasalahan sosial, “ ujarnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini