Aksi Buruh di Bali Diiringi Musik Bale Ganjur

Puji Sukiswanti , Sindonews · Minggu 01 Mei 2016 12:19 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 01 340 1377337 aksi-buruh-di-bali-diiringi-musik-bale-ganjur-QGZ9A99ujs.jpg Buruh Bali Bersatu tolak upah murah. (Foto: Puji Sukiswanti)

DENPASAR – Ratusan pekerja dari Aliansi Buruh Bali Bersatu bergerak melakukan aksi memperingati Hari Buruh Sedunia yang jatuh pada 1 Mei. Ratusan buruh dalam perjalanan aksinya ini diiringi musik tradisonal Bali yaitu bale ganjur dan tiupan sang sakala.

Setiap akan menyanyikan yel-yel, para peniup sang sakala memberikan komando. Adanya hal tersebut untuk menambah semangat para buruh untuk aksi.

Dalam aksinya kali ini, para buruh mengitari Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, sejak pukul 08.00 Wita. Banyak warga yang menyaksikan aksi tersebut lantaran bertepatan dengan hari Minggu. Masyarakat yang mendengarkan yel-yel buruh bersatu tak bisa dikalahkan pun ikut meneriakkan hal tersebut.

Koordinator aksi, Aliansi Buruh Bersatu Bali, Ida I Dewa Made Rai Budi Darsana mengatakan, hari buruh ini sebagai wujud rasa syukur dan juga keprihatianan buruh di Bali yang sampai saat ini masih jauh sebagai buruh yang bermartabat dan sejahtera.

Pihaknya menyatakan, dalam aksinya ini menyatakan sikap di antaranya adanya penerapan upah minimum sektoral.

“Selama ini perusahaan jarang menetapkan UMK atau UMP. Itu hanya sebatas di kertas,” ucapnya di Renon, Denpasar, Minggu (1/5/2016).

(Baca Juga : Tiga Tuntutan Buruh Pelabuhan Indonesia)

Selain itu, buruh menolak adanya upah murah dan hapus sistem outsourcing. Menurutnya, system outsourcing tidak memanusiawikan buruh. Bali yang menyandang status “paradise of island” tidak menjadi surga bagi para pekerja. Terlebih dengan adanya sistem kerja outsourcing semenjak berlakunya Permen Nomor 19 Tahun 2012. Buruh menjadi korban dari sistem outsourcing.

“Kami juga menuntut hapus sistem kontrak. Mekanisme sistem kontrak kerja ini saat ini menggunakan sistem putus sambung yang pada kontrak masanya habis perusahaan tidak mau mengubah status pekerja tersebut ke pekerja tetap,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya menolak adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak. Berdasarkan data LBH Bali, pada 2015 kasus perburuhan mengalami peningkatan yang cukup siginifikan, baik dalam hal pendampingan maupun konsultasi.

“Kami dalam aksi ini ingin menyampaikan masalah-masalah buruh di Bali dan mereka yang diatas mau mendengarkan tuntutan kami,” ujarnya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini