nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nelayan Lombok Timur Tolak Pengerukan Pasir Laut untuk Reklamasi

ant, Jurnalis · Senin 02 Mei 2016 15:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 05 02 340 1378273 nelayan-lombok-timur-tolak-pengerukan-pasir-laut-untuk-reklamasi-NGg992sskN.jpg Ilustrasi

MATARAM - Masyarakat nelayan bersama sejumlah kelompok mahasiswa dan organisasi dari kalangan nelayan asal Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menggelar aksi unjuk rasa menolak pengerukan pasir laut di perairan setempat.

Sejumlah spanduk yang bertuliskan tolak izin pengerukan pasir laut di Lombok Timur dan bendera organisasi kemasyarkatan maupun kelompok mahasiswa ikut mengiringi aksi penolakan.

Saiful, nelayan asal Desa Tanjung Luar, dalam orasinya mengungkapkan, hampir seluruh masyarakat yang ada di desanya bertumpu pada keberlangsungan laut di perairan yang akan dikeruk dan dijual untuk reklamasi di Teluk Benoa, Bali.

"Jika kegiatan pengerukan ini terjadi, sama saja pemerintah telah membunuh hidup kami sebagai nelayan. Cuma di sana satu-satunya tempat kami mencari makan," kata Saiful, Senin (2/5/2016).

Untuk itu, ia bersama sejumlah kelompok massa aksi yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) Perwakilan NTB meminta Gubernur NTB jangan sampai menandatangani surat izin pengerukan pasir laut di perairan Lombok Timur.

"Kami minta dengan sangat kepada Gubernur NTB untuk mencabut dan menolak izin pengerukan pasir laut di tempat kami mencari nafkah ini," ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dusun Kampung Tengaq, Desa Tanjung Luar, Abdul Basir. Ia mengatakan, dirinya bersama masyarakat nelayan meminta perlindungan agar tidak ada penerbitan izin pengerukan.

"Sekarang saja masih susah hidup dari hasil melaut, apalagi nanti jika izin pengerukan dikeluarkan, kami makan apa?" kata Abdul.

Ia menambahkan, sebagian besar masyarakat di Dusun Kampung Tengaq, umumnya di Desa Tanjung Luar, bekerja sebagai nelayan. "Sebagian besar dari masyarkat kami ini hidup dari hasil melaut," ucapnya.

Pendapatan yang diperoleh dari hasil melaut, menurut dia, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan. Ia mengungkapkan, keuntungan untuk satu kali melaut itu sebesar Rp150 ribu. Namun, keuntungan itu belum dipotong untuk membeli bensin yang sekali melaut sebanyak 10 liter.

(fds)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini