nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lawan Investor, Warga Yogya Upacara Bendera Berseragam SD

Markus Yuwono, Jurnalis · Rabu 25 Mei 2016 15:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 05 25 510 1397447 lawan-investor-warga-yogya-upacara-bendera-berseragam-sd-s1ptoVyqqs.jpg

YOGYAKARTA - Perlawanan terhadap investor yang akan menguasai Pantai Watu Kodok, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, DIY, dilakukan oleh warga setempat dengan cara menggelar upacara bendera menggunakan seragam anak Sekolah dasar (SD).

Setelah selesai upacara mereka menggelar doa bersama dan kenduri yang bersumber dari makanan hasil pertanian setempat, serta melarung sesaji di lautan. Peserta upacara yang sebagian paruh baya tampak khusuk mengikuti upacara berseragam SD dengan tiang bendera dari bambu. Selain itu, mereka juga melakukan aksi bersih pantai, gelar pangan lokal, renungan perjuangan warga, panggung kesenian, serta pemutaran film "Rayuan Pulau Palsu".

Sesepuh Pedukuhan Kelorkidul Yahya Yusmadi mengatakan acara ini sebagai bentuk perlawanan masyarakat setempat atas upaya investor yang hendak menguasai lokasi wisata. Investor sempat meremehkan para penghuni lokasi pantai yang terkenal dengan pasir putihnya karena hanya lulusan SD. "Setahun lalu, yakni Mei 2015, investor melontarkan cibiran kalau warga setempat tak memiliki kekuatan karena mayoritas hanya lulusan SD," katanya disela upacara, Rabu (25/5/2016).

Ia mengatakan, upacara ini untuk menolak upaya investor menghancurkan bukit karst di sekitar Pantai Watu Kodok, yang akan dibangun resort. "Ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat untuk menghindarkan pantai Watukodok dan warga dari bencana lingkungan dan sosial, demi keberlanjutan hidup manusia dan ekosistemnya," tegasnya.

Yahya mengatakan Pantai Watu Kodok menopang kehiduapan masyarakat setempat, di mana sejumlah warga membuka toko seiring banyaknya wisatawan yang berkunjung. "Warga di sini yang membuka akses jalan agar wisatawan mudah masuk ke pantai, kok mereka mau menggusur," sesalnya.

Warga Desa Kelorkidul, Suradi mengatakan warga sejak 1948 sudah mengelola Pantai Watu Kodok. Sehingga pihaknya menyayangkan jika masyarakat asli digusur oleh investor. "Watu kodok itu bukan hanya sumber kehidupan bagi warga di tiga dusun, tetapi ruang hidup keanekaragaman hayati pantai,"ucapnya.

Perlu diketahui, konvlik antara investor dan warga bermula setahun lalu saat investor atas nama Eni meminta masyarakat yang mendiami watu kodok untuk meninggalkan lokasi karena akan dibangun resort. Eni mengklaim sudah mendapatkan kekancingan dari panitikismo Kraton Yogyakarta untuk memanfaatkan sultan ground tersebut.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini