Image

Teknologi Atasi Tumpahan Minyak Terintegrasi dari ITB

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis · Kamis, 26 Mei 2016 - 12:00 WIB
Integrated Controller Sorbent karya mahasiswa ITB. (Foto: Dok. ITB) Integrated Controller Sorbent karya mahasiswa ITB. (Foto: Dok. ITB)

JAKARTA - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) tak henti-hentinya menciptakan inovasi. Melihat rentannya pencemaran laut akibat tumpahan minyak, dua mahasiswa ITB, yakni Evan Febrianto dari jurusan Teknik Elektro dan Evita Izza Dwiyanti dari jurusan Rekayasa Kehutanan merancang prototype Integrated Controlled Sorbent (ICS) , sebuah teknologi untuk menanggulangi bencana tumpahan minyak di lautan secara responsif, cepat, dan terintegrasi.

Penamaan ICS mengandung dua arti, yakni controlled sorbent yang berarti penyerap substansi yang bisa dikendalikan dan integrated atau terintegrasi dengan sistem. Awalnya, alat ini dirancang untuk mengikuti Lomba Pekan Ilmiah Nasional Riset & Teknologi (Pinisi) 2015. Berkat karyanya ini, Evan dan Evita berhasil memperoleh juara kedua dalam kompetisi yang diadakan oleh mahasiswa S-1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro (Undip) tersebut.

"Selain karena kasusnya (tumpahan minyak) sedang marak, kami juga melihat dampak dari tumpahan minyak sangatlah besar sehingga perlu ditanggapi dengan cepat," ujar Evan dinukil dari laman ITB, Kamis (26/5/2016).

Dia menjelaskan, ICS bekerja dengan mekanisme integrasi berbagai macam sistem. Setelah mendapat gambar diskrit dari daerah tumpahan minyak, boom sorbent akan diturunkan untuk membatasi daerah tumpahan minyak agar tidak menyebar. Bagian ini kemudian akan menjadi perisai yang mengelilingi daerah tumpahan minyak dan mecegah penyebaran tumpahan minyak.

Proses selanjutnya, pillow sorbent diturunkan untuk menyerap tumpahan minyak yang ada di laut. Pillow sorbent sendiri bisa dikendalikan secara manual melalui PC yang terintegrasi atau secara otomatis dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Sehingga, penyerapan tumpahan minyak dapat dilakukan secara cepat, efisien, dan tidak terkendala cuaca.

Prototype ICS saat ini telah dipamerkan di Galeri Gajah sejak pertengahan April lalu. Tujuannya, untuk mempublikasikan karya-karya mahasiswa ITB yang yang berpotensi, namun belum dikenal oleh masyarakat luas. Evan mengungkapkan, tidak ingin pencapaiannya terhenti sebatas memenangkan lomba saja.

"Aku tidak mau ide yang sudah dibuat dengan susah payah hanya dihargai dengan uang. Aku ingin dihargai dengan paten," tuturnya.

Dia menambahkan, perkembangan ICS terhambat akibat kebutuhan donasi yang belum didapat. Sedangkan menurutnya karyanya tersebut bisa dikembangkan lagi lantaran Evan melihat bahwa Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika juga sedang mengembangkan ide serupa.

"Memang sekarang Integrated Controlled Sorbent ini belum ada progresnya, bisa dibilang masih vakum. Tapi, jelas aku ingin merealisasikan ide ini karena ini sangat mungkin untuk diwujudkan. Selain itu, semoga karyaku ini bisa jadi inspirasi bagi anak-anak ITB untuk berkarya," tukasnya. (ira)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming