Kenangan Gempa Yogya, Takut Tsunami Warga Ikat Jenazah di Pohon

Markus Yuwono, Sindoradio · Jum'at 27 Mei 2016 08:34 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 27 510 1399022 kenangan-gempa-yogya-takut-tsunami-warga-ikat-jenazah-di-pohon-3gV0BF06A6.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

YOGYAKARTA - Ketidaktahuan warga terkait gempa memunculkan berbagai isu di warga Bantul saat gempa 2006. Ketakutan akan tsunami menerjang wilayah Bantul menyebabkan sebagian besar warga mengikat mayat di bawah pohon untuk mencegahnya hanyut.

"Dari informasi di wilayah Bambanglipuro dan Jetis, mengikat jenazah di bawah pohon agar tidak terbawa air, lalu yang selamat melarikan diri karena ada isu tsunami," kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Waktu itu, sebagian besar masyarakat belum tahu mengenai gempa dan tsunami. Padahal gempa 2006 berpusat di darat sehingga tidak menimbulkan Tsunami. "Saat itu masyarakat belum paham mengenai gempa dan tsunami," ucapnya.

(Baca Juga: Kisah-Kisah Warga Bantul saat Diguncang Gempa Yogyakarta)

Yogyakarta, disebut Dwi, merupakan salah satu daerah rawan gempa. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi sebagai bentuk pencegahan jatuhnya korban saat gempa bumi.

"Gempa itu tidak membunuh, tetapi efeknya seperti rumah ambruk, itu yang perlu disosialisasikan bagaimana mencegah korban berjatuhan," ucapnya.

Yogyakarta, selain gempa dan tsunami, terdapat kerawanan bencana lainnya seperti tanah longsor dan banjir. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIY, Heri Siswanto, mengungkapkan berdasarkan kajian dari risiko bencana, ada 301 desa rawan bencana di DIY.

“Dengan jumlah desa tersebut terdapat 2.906 sekolah yang masuk di kawasan rawan bencana,” katanya.

Ditambahkan, di sana sudah dibentuk desa tangguh bencana maupun sekolah siaga bencana, dapat meningkatkan kapasitas dengan menyusun dokumen kelembagaan dan perencanaan serta menerapkan penyusunan kurikulum mitigasi bencana di sekolah.

“Dengan hal ini para siswa dapat memahami masalah bencana alam dan mandiri untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana,” tambahnya.

Dari 301 desa rawan bencana di DIY, Kabupaten Gunungkidul ada 124 desa dan lebih darii 1.000 sekolah yang memiliki potensi bencana terbesar karena berdiri di kawasan rawan bencana.

“Dengan berbagai bekal yang diperoleh melalui pelatihan gladi lapangan, diharapkan dapat membantu sekolah termasuk siswa melakukan kesiapsiagaan dan bertindak yang benar jika bencana itu benar-benar terjadi,” ujarnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini