Bumi Berdentum Usai Gempa Yogyakarta

Markus Yuwono, Sindoradio · Jum'at 27 Mei 2016 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 27 510 1399027 bumi-berdentum-usai-gempa-yogyakarta-jIkEVcZjhD.jpg Ilustrasi. (dok.Okezone)

YOGYAKARTA – Gempa mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 sekira pukul 05.5 WIB. Itu dirasakan oleh warga Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul. Pasca-gempa itu, masyarakat di sana mendengarkan dentuman di pusat gempa, yakni di sekitar pertemuan Sungai Opak dan Oya.

Kepala Dusun Potrobayan, Sayudi mengatakan sekira pukul 07.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB, gempa susulan sering terjadi. "Gempa yang pukul 10.00 WIB merobohkan rumah yang sebelumnya hanya doyong dan retak," katanya

Selanjutnya, selama lima bulan hampir setiap malam dirinya dan warga mendengar ada dentuman mirip meriam dari dalam bumi. Awalnya warga mengira ada latihan perang di sekitar Gunungkidul. "Dentuman didengarkan hampir setiap malam," ucap Sayudi.

Lama kelamaan dentuman itu hilang. "Sampai lima bulan meski intensitasnya mulai berkurang, setiap harinya akhirnya hilang secara sendirinya," ucap Sayudi

Sementara Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Tony Agus Wijaya menjelaskan, di bawah permukaan bumi bagian kulit bumi yang saling bertemu. Di dalam inti bumi ada bagian yang cair panas bergerak terus menerus.

"Seolah-olah kita berada di atas panic. Kita berada di kulit kerak bumi, di bawah puluhan kilometer ada inti bumi yang beregerak terus menerus sehingga terjadi gempa bumi," katanya

Suara dentuman dinilai merupakan proses alamiah, yakni pelepasan energi dan membentuk keseimbangan baru dari bumi. "Proses alamiah pelepasan energi," jelasnya. [Baca Juga: Kisah-Kisah Warga Bantul saat Diguncang Gempa Yogyakarta]

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini