Yogyakarta Diapit Dua Titik Penyebab Gempa

Markus Yuwono, Sindoradio · Jum'at 27 Mei 2016 10:50 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 27 510 1399103 yogyakarta-diapit-dua-titik-penyebab-gempa-DqMuEmXy4H.jpg Warga menujukkan pusat gempa di Bantul tahun 2006 (Markus Yuwono)

YOGYAKARTA - Sebagai wilayah yang memiliki patahan opak di sepanjang Sungai Opak, Bantul memiliki potensi gempa bumi. Pada tahun 2006 lalu, gempa tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang berada di sesar opak.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Tony Agus Wijaya mengungkapkan, ada dua pemicu potensi gempa di Yogyakarta. Pertama patahan atau sesar opak yang pusatnya di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul.

"Patahan opak bisa menjadi sumber gempa bumi. Dan itu pun muncul bilamana terjadi kumpulan energi yang terbentuk cukup lama, bahkan sampai ratusan tahun. Gempa pada patahan opak itu, terjadi pada tahun 2006 silam," kata Tony kepada Okezone.

Dampak gempa tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar patahan opak, tapi hampir beberapa wilayah di bagian selatan DIY. Tony menambahkan, energi yang terkumpul di patahan opak sebenarnya berada pada level gempa menengah.

Seharusnya korban gempa menengah pada 2006 lalu, tidak terlalu besar. Namun karena kualitas bangunan dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang gempa bumi saat itu, mengakibatkan korban begitu banyak.

"Gempa 2006 mengingatkan kita mengenai potensi gempa bumi yang ada di Yogyakarta, mengenal gempa dan mengetahui langkah antisipasi dan kita bisa hidup harmonis dengan gempa," terang Tony.

Sementara pemicu potensi gempa yang kedua, wilayah DIY masuk kawasan yang sejalur dengan daerah patahan subduksi atau pertemuan antara lempengan Eurasia dengan Indo Australia. Daerah subduksi itu terletak pada jarak 300 kilometer dari pantai selatan. "Jika daerah tersebut mengalami pergerakan maka akan menimbulkan gempa," jelasnya

Munculnya gempa bumi memang tidak dapat dicegah atau dihentikan. Namun demikian, masyarakat harus bisa akrab dan waspada terhadap gempa bumi di Yogyakarta. Dengan begitu, korban jiwa akibat gempa bisa diminialisir.

Adapun langkah antisipasi menurut Tony, di antaranya membangun bangunan yang tahan terhadap getaran gempa bumi. Sebab, tingkat kerusakan bangunan akibat gempa tergantung pada kekuatan dan kedalaman gempa, mutu bangunan dan jenis tanah dimana bangunan berdiri.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini