Kenangan Mbah Rono saat Gempa Yogya

Prabowo, Okezone · Jum'at 27 Mei 2016 14:50 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 27 510 1399325 kenangan-mbah-rono-saat-gempa-yogya-owS23MRp4s.jpg (Foto: Antara)

YOGYAKARTA - Hari ini tepat 10 tahun peristiwa gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Gempa berkekuatan 5,9 skala richter selama 57 detik itu menelan lebih dari 5.000 jiwa.

Staf Ahli Kementeri ESDM Surono yang akrab dipanggil Mbah Rono memiliki kenangan yang tak terlupakan. Tidak sekedar pada kerusakan fisik bangunan, tapi pada masyarakat Yogya yang bangkit dari keterpurukan.

"Yang sangat terkenang sekali adalah ketangguhan masyarakat, bangkit dari keterpurukan bencana. Saya tidak pernah lupakan itu," kata Mbah Rono kepada Okezone, Jumat (27/5/2016).

Kala itu, dia mendapat tugas untuk memantau aktifitas Gunung Merapi yang tengah bergejolak. Namun, ditengah tugasnya justru terjadi gempa dasyat di wilayah Bantul, DIY. "Saat itu (2006) terjadi polemik antara saya dan BMKG. Kalau BMKG menyataan gempa itu di laut, kalau saya, kerena saya punya data banyak di Merapi, saya nyatakan gempa di darat, sesar Kali Opak," jelasnya.

Mbah Rono lantas diminta untuk menjelaskan alasannya ditengah kepanikan masyarakat pascagempa terjadi. Namun, dia menampiknya karena tak ingin penjelasannya justru membuat masyarakat bertambah panik. Sebab, pusat gempa berada Sungai Opak di wilayah Bantul.

"Waktu itu saya disuruh berdebat tentang asal gempa, saya engak mau berdebat masalah darat, masalah laut. Yang penting tugas saya menyelesaikan segala macam urusan di kementerian ESDM," katanya.

Dia memilih fokus agar PLN segera memperbaiki jaringan listrik. Sebab, pasca gempa terjadi kondisi hening tanpa instalasi jaringan listrik. Ketiadaan pasokan listrik dilakukan agar masyarakat dan fasilitas umum tidak terganggu. "Waktu itu listrik harus hidup, sediakan genset untuk rumah sakit-rumah sakit dan tenda, itu yang harus saya prioritaskan agar aktifitas tidak terganggu," jelasnya.

Kala itu, kata dia, Kementerian ESDM menawarkan bantuan berupa makanan pada korban gempa melalui Surono. Namun, Mbah Rono menolak karena kebutuhan sudah tercukupi dan tidak mendesak. "Saya memilih sekop, sama gerobak celeng (angkong). Saya minta 5.000 masing-masing. Pimpinan di Kementerian ESDM sampai geleng-geleng kepala, ngapain malah peralatan-peralatan (tukang) seperti itu," urainya.

Masyarakat Yogya, kata Mbah Rono, butuh peralatan untuk kerja membersihkan reruntuhan bangunan rumah. Mereka tidak berada di suatu pengungsian, tapi lebih banyak berada di sekitar rumah yang ambruk dengan kondisi yang memprihatinkan. "Itu yang menurut saya masyarakat Yogya luar biasa tangguh. Mereka bertahan di sekitar rumah yang roboh. Membersihkan puing-puing bangunan dengan peralatan seadanya," jelasnya.

Kondisi itu berbeda saat terjadi gempa dan tsunami di Aceh 2004. Jika di Aceh, masyarakat berada dalam suatu tempat yang luas sehingga bisa lebih mudah dipantau. Sementara di Yogya, masyarakat tetap tinggal di sekitar rumah sambil membersihkan reruntuhan secara gotong royong.

Surono terus berkeliling di lokasi gempa yang terpencar-pencar untuk memastikan ketersediaan listrik agar saat malam tidak gelap gulita. Ada suatu tempat yang membuatnya menangis karena terharu atas sikap warga.

"Saya keliling terus waktu itu. Ada suatu tempat, terdapat spanduk bertuliskan "Kami Bukan Tontonan, Bawalah Bantuan Kembali", waktu itu saya menetaskan air mata, sungguh luar biasa masyarakat," jelasnya.

Surono terus berkeliling lokasi bencana untuk memastikan adanya pasokan listrik, kebutuhan minyak di pasar, dan lainnya. Karena menyangkut ESDM, tak heran dia memantau jangan sampai kebutuhan energi listrik kekurangan.

"Waktu itu sedang ada tontonan bola dunia. Itu menjadi hiburan dalam keterpurukan, jadi jangan sampai masyarakat kekurangan listrik. Saya lihat saat malam hari, masyarkat menonton bola untuk hiburan," jelasnya.

Surono juga menceritakan ketika ada pejabat tinggi di Kementerian berkunjung ke Yogyakarta. Dia harus mengawal dan memberitahukan informasi setiap peristiwa yang terjadi. "Waktu itu saya belum pejabat tinggi, harus mengawal pejabat tinggi dari pusat. Mereka di Yogya tiga hari, hari pertama, engak tau apa kita sampaikan kondisi yang terjadi. Hari kedua, sedikit mengetahui dengan mengunjungi lokasi bencana, hari ketiga pulang. Jadi saya ini ngurusi korban bencana dan juga pejabat yang datang, dobel jadinya," celetuknya. 

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini