nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Mbah Rono Melacak Data Gempa Dahsyat Yogyakarta pada 1943

Prabowo, Jurnalis · Jum'at 27 Mei 2016 15:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 05 27 510 1399367 cerita-mbah-rono-melacak-data-gempa-dahsyat-yogyakarta-pada-1943-B83pJA9INI.jpg Ilustrasi

YOGYAKARTA - Staf ahli Kementerian ESDM, Surono, menyampaikan, jika suatu wilayah pernah terjadi gempa, maka wilayah itu akan tergoncang gempa lagi, entah kapan waktunya. Sebagai contoh, gempa bumi 10 tahun lalu di Yogyakarta.

Menurutnya, Yogya tak hanya sekali diguncang gempa dahsyat pada 27 Mei 2006. Namun, peristiwa serupa, bahkan lebih besar pernah terjadi saat penjajahan Jepang pada tahun 1943.

"Saat peristiwa gempa Yogya 2006, saya waktu itu sosialisasi ketemu orang yang sudah tua-tua. Saya sampaikan ke mereka, ingat tidak pada tahun 1943 Yogya juga pernah diguncang gempa," kata Mbah Rono saat berbincang dengan Okezone lewat telefon, Jumat (27/5/2016).

Pada 2006, Mbah Rono sudah bertugas di Yogyakarta dari Kementerian ESDM untuk memantau aktivitas Gunung Merapi. Di tengah memantau aktifitas Merapi, justru terjadi gempa bumi yang menewaskan lebih dari 4.000 jiwa akibat tertimbun reruntuhan bangunan.

Banyak orangtua yang ditemui Mbah Rono mengaku tidak mengetahui peristiwa serupa (gempa bumi di Yogyakarta) pada tahun 1943. Mereka menggelengkan kepala sambil mengatakan ketidaktahuan atas peristiwa gempa bumi pada 1943.

"Mboten enten (enggak ada) gempa seperti saat ini (2006)," kata mbah Rono menirukan beberapa orangtua yang sudah ada di saat peristiwa gempa bumi Yogyakarta pada tahun 1943.

"Waktu itu, saya berpikir, jangan-jangan katalog gempa yang saya bikin salah. Akhirnya saya tanya lagi, ingat tidak waktu jaman Jepang Yogya pernah ada gempa? Enjeh enten lindu (ya ada itu gempa)," ucap Mbah Rono.

Lalu, kata Mbah Rono, orang-orang yang mengalami peristiwa gempa 1943 silam diminta untuk bercerita. Menurut mereka, peristiwa itu jauh lebih besar dan durasi waktu lebih lama dibanding dengan peristiwa 27 Mei 2006.

"Dulu (1943) mau keluar dari rumah saja engak bisa, jatuh-jatuh. Rumah saya dari bambu, jadi tidak sampai ambruk, cuma doyong (miring). Waktu itu memang lebih besar, karena rumah dari bambu sehingga tidak banyak jatuh korban," kenangnya menirukan orang yang mengalami peristiwa gempa 1943.

Menurut Mbah Rono, dari tahun 2000-2015 di dunia ini ada 12 gempa yang korbannya lebih dari 1.000 jiwa. Empat di antaranya di Indonesia, mulai dari 2004 gempa yang menimbulkan tsunami di Aceh, kemudian 2005 gempa bumi dan tsunamibdi Nias, lalu 2006 gempa bumi di Yogyakarta, serta gempa bumi di Padang tahun 2009.

"Saya belajar, kenapa banyak korban. Besarkah gempanya atau bagaimana. Kalau kita balik lagi, Gunung Kelud 2014 juga letusannya besar, bandara seluruh Jawa lumpuh, korbannya 0. Kemudian Merapi 2010 letusan besar, sekitar 1 juta orang mengungsi, korban ada 300an, mereka rata-rata tidak mau keluar dari daerah bahaya," jelasnya.

Dari sekian banyak peristiwa bencana, Mbah Rono mengaku masyarakat Yogyakarta patut menjadi contoh. Dia mengaku banyak belajar bagaimana masyarakat hidup bergotong royong dan harmoni dengan alam.

"Saya amati mereka (gempa 2006), bukan kepasrahan. Tapi berani menerima kenyataan kemudian bangkit. Itu bisa jadi contoh dunia. Jadi bencana itu tidak jadi tangisan, tapi jadi pelajaran dan harus dihadapi," urainya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini