nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lumpuh Akibat Gempa Yogya 2006, Ini Kisah Heri "Si Pantang Menyerah"

Markus Yuwono, Jurnalis · Jum'at 27 Mei 2016 16:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 05 27 510 1399401 lumpuh-akibat-gempa-yogya-2006-ini-kisah-heri-si-pantang-menyerah-iEipX0KCjI.jpg foto: Markus Yuwono/Sindo Radio

YOGYAKARTA - Gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 mengubah hidup Heribertus Hari Prasetyo (38) warga Dusun Monggang, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Hingga kini, Heri mengalami kelumpuhan dan harus menggunakan kursi roda untuk alat bantu berjalan.

Heri menceritakan, ketika gempa berlangsung pada Sabtu 27 Mei 2016, Heri masih terlelap. Namun karena getaran cukup kuat, ia tersentak lalu membangunkan istrinya Fransiska Dwi Arti (33) untuk menyelamatkan bayi mereka yang masih berusia 11 bulan.

"Saya sempat berlari, namun tertimpa blandar rumah, punggung saya panas dan kaki saya kesemutan. Saya sudah berpikir jika akan lumpuh, saat pegang kaki sudah tidak terasa," katanya kepada wartawan.

Suasana kalut saat itu. Sang istri berusaha menyelamatkan anak mereka Angela Merici. Heri sediri ditolong oleh tetangganya, lalu dibawa ke Rumah Sakit Rahma Husada. Namun sebelum ditolong, ia sempat dibiarkan sendiri karena ada isu tsunami.

"Saya ditinggal sendirian, mau lari tidak bisa,” ujar Heri yang dulunya merupakan pekerja bangunan di Yogyakarta.

Heri dirawat di sejumlah rumah sakit, di antaranya RS Panti Rapih Yogyakarta. Diagnosa dokter, tulang punggungnya bergeser dan berimbas pada kelumpuhan. "Setiap dokter yang merawat selalu memberi saya suntikan semangat," ucapnya.

Meski mengalami kelumpuhan, Hari enggan bergantung dari belas kasihan orang lain. Dia tetap beraktivitas mencoba peruntungan untuk menghidupi keluarganya. Heri juga aktif dalam kegiatan sosial untuk membantu rekan difabel lainnya dengan memperbaiki kursi roda.

"Saya masih bisa hidup sehat dan bertemu dengan keluarga membuat saya bersyukur. Saya benar-benar bersyukur bisa menikmati karunia Tuhan. Hidup harus semangat dan tetap mengandalkan Tuhan dalam apapun kondisinya," ucapnya.

Pasca-gempa dan dalam kondisi lumpuh, dia jatuh bangun membangun usaha. Mulai dari membuka servis barang elektronik, budidaya jamur, ternak ayam, hingga buka toko kelontong.

Servise alat elektronik sudah tidak ditekuni lagi begitu juga dengan beternak unggas karena merugi akibat banyak unggas yang mati. "Saat ini saya membuka toko kelontong untuk menopang ekonomi keluarga," ucapnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini