nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesona Lengkap di Balik Suhu Ekstrim Mahameru

Tritus Julan, Jurnalis · Minggu 29 Mei 2016 06:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 05 28 519 1400215 pesona-lengkap-di-balik-suhu-ekstrim-mahameru-fSqSVAvnkE.jpg Puncak Semeru, Mahameru (foto: Tritius Julan/Koran Sindo)

Bagi para pencinta alam, terutama pendaki gunung, Semeru merupakan gunung impian. Selain pemandangannya yang memesona, gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu menyuguhkan tantangan yang tak berujung.

Keindahan Gunung Semeru terus menjadi pergunjingan. Terlebih setelah gunung yang memiliki puncak tertinggi bernama Mahameru itu sempat muncul dalam layar lebar film 5 Centimeter. Sejak itu, pengunjung wisata pendakian yang berpusat di Kabupaten Lumajang itu terus membeludak. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu bahkan mampu menyedot perhatian wisatawan mancanegara untuk menapakkan kakinya di atas puncak.

 

Untuk sampai di puncak Mahameru, pendaki memang harus menyiapkan fisik dan mental yang cukup. Tak hanya itu, peralatan yang digunakan harus memadai mengingat medan yang sulit dan suhu yang ekstrim. Untuk wisata pendakian yang mengambil start di Ranupani, setidaknya membutuhkan waktu tiga hari untuk bisa kembali ke titik start yang memiliki ketinggian 2.100 mdpl itu. Perbekalan yang cukup menjadi syarat wajib pendakian, karena dalam pendakian gunung ini, setidaknya pendaki bermalam selama dua hari.

Perjalanan panjang pendakian dari Ranupani hingga Rabukumbolo setidaknya memakan waktu lima jam. Jalur sepanjang 10,5 kilometer itu melewati beberapa titik, di antaranya Landengandowo dan Waturejeng. Di jalur ini terbilang cukup mudah dilalui kendati memiliki jarak tempuh yang cukup panjang. Jalur yang terbilang landai, cukup bersahabat bagi pendaki untuk menikmati indahnya pemandangan perbukitan. Sebelum akhirnya, kita akan disuguhi pemandangan eksotis waduk Ranukumbolo yang berada di ketinggian 2.400 mdpl.

 

Di waduk seluas 15 hektare dan dikelilingi perbukitan ini, pendaki biasanya memilih untuk bermalam. Selain melepas lelah, tempat ini juga menyuguhkan pemandangan yang eksotis baik saat matahari terbenar (sunset) maupun matahari terbit (sunrise). Namun jangan salah, butuh pakaian yang hangat saat singgah di tempat ini. Tercatat suhu terendah di Ranukumbolo bisa mencapai minus 20 derajat celcius. Ranukumbolo menjadi tempat favorit para pendaki, pun bagi mereka yang tak berniat melakukan pendakian hingga ke puncak Mahameru.

Dari Ranukumbolo, pendaki harus menuntaskan perjalanan yang masih cukup panjang untuk sampai di puncak. Perjalanan awal, pendaki harus menaklukkan curamnya tanjakan cinta. Konon, tanjakan menuju Oro-Oro Ombo ini memiliki mitos. Bagi muda-mudi, tanjakan ini dipercaya bisa meraih cinta pasangan jika dalam pendakian titik ini, pendaki tak menoleh ke belakang dan tak berhenti. Namun curamnya medan cukup menyulitkan pendaki untuk tidak berhenti barang sejenak.

Lelah menaklukkan tanjakan cinta akan terbayar setelah melihat pemandangan eksotis Oro-Oro Ombo. Landskap yang cukup luas itu nyaris tertutup warna ungu oleh bunga Verbena Brasiliensis Vell. Kawasan ini sering dimanfaatkan pendaki untuk berfoto. Bagi mereka yang menyukai bunga ini, pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memperbolehkan membawanya pulang. Namun, jangan sekali-kali membawa bunga edelweis yang menghampar di titik Kalimati hingga Arcopodo.

 

Untuk mencapai kawasan Kalimati, pendaki harus melewati beberapa medan yang cukup sulit melewati jalur Cemorokandang dan Jambangan. Setidaknya, butuh waktu sekitar 5 jam perjalanan dari Ranukumbolo menuju Kalimati, yang merupakan titik terakhir bagi para pendaki untuk mendirikan tenda. Dengan ketinggian 2.700 mdpl, suhu di Kalimati terbilang ekstrim. Dari titik ini, pendaki dengan mudah menyaksikan indahkanya puncak Mahameru.

TNBTS sendiri menyarankan agar pendaki mengakhiri pendakian di kawasan Kalimati. Karena memang, pihak pengelola hanya memberikan asuransi terakhir di kawasan ini. Namun tak sedikit pendaki yang nekat melanjutkan pendakian hingga puncak Mahameru melalui jalur Arcopodo. Setidaknya, membutuhkan waktu sekitar delapan jam untuk sampai ke puncak dari kawasan Kalimati. Jangan heran, di jalur Arcopodo akan banyak ditemui monumen-monumen inmemorian pendaki gunung yang meninggal dunia saat melakukan pendakian.

 

Jalur summit attack menjadi tantangan terberat pendaki. Dengan panjang 1,5 kilometer, pendaki harus menaklukkan medan dengan kemiringan ekstrim di lautan pasir. Puncak pemandangan eksotis akan bisa dinikmati dari puncak Mahameru. Gulungan awan yang berada di bawah puncak menambah indahnya pemandangan. Ditambah lagi beberapa puncak gunung yang terlihat jelas, seperti Gunung Welirang dan Arjuna.

Di puncak Mahameru, pendaki harus harus turun sebelum pukul 10.00 WIB. Karena status gunung yang masih aktif, muntahan material dari letusan kecil gunung ini bisa membayakan pendaki. Di puncak ini, pendaki juga disarankan agar tak berlama-lama lantaran suhu yang ekstrem dan rawan badai.

”Perjalanan melelahkan ke puncak Mahameru selalu terbayar dengan pemandangan indahnya. Tak hanya di puncak, pemandangan sepanjang perjalanan juga sangat indah. Semeru memberikan pemandangan beragam yang selalu memesona,” ujar Taufan Pamungkas, salah satu pendaki.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini