nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cara Pengelola TN Gunung Gede Cegah Hilangnya Pendaki

Salman Mardira, Jurnalis · Sabtu 28 Mei 2016 04:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 05 28 525 1399901 cara-pengelola-tn-gunung-gede-cegah-hilangnya-pendaki-1CkgzOsEog.jpg salah satu jalur pendakian Gunung Gede Pangrango (Salman Madira/Okezone)

CIBODAS - Balai Besar Taman Nasional (TN) Gunung Gede Pangrango Jawa Barat punya trik khusus menekan angka kecelakaan pendakinya. Mereka berupaya agar kejadian seperti hilangnya pendaki di Gunung Semeru terulang di sana.

"Kita sudah menyiapkan berbagai upaya antisipasi kecelakaan pendakian," kata Kepala Seksi Perencanaan Perlindungan dan Pengawasan TN Gunung Gede Pangrango, Aden Mahyar, Jumat (27/5/2016).

Upaya itu dilakukan banyaknya kasus kecelakaan pendaki yang terjadi beberapa tahun terakhir, menyusul tingginya minat warga mendaki Gunung Gede Pangrango.

"Data terakhir April-Mei 2016 jumlah kecelakaan pendaki ada 15 orang, tapi semuanya sakit karena kelelahan," ujar Aden.

Untuk meminimalisasi kecelakaan dan hilangnya pendaki, sejumlah syarat pendakian dibuat. "Salah satunya kita buat sistem booking online, di mana setiap orang yang mau naik Gunung Gede Pangrango harus booking dulu," sebutnya.

Dengan adanya booking, kata dia, maka pendaki memungkinkan menyiapkan segala kebutuhannya baik logistik, fisik dan peralatan lainnya sebelum jadwal naik tiba.

Ketika hendak naik, mereka diperiksa kembali kesiapannya di pos pendakian. Mulai dari logistik hingga harus dilengkapi jaket tebal, untuk mencegah pendaki menyalakan api unggun di malam hari yang berpotensi terbakarnya hutan.

Kemudian pendaki dibatasi 600 orang sehari, karena jika terlalu ramai selain sulit dimonitor juga bisa mengusik kenyamanan satwa.

Tiap grup, kata Aden, minimal harus tiga orang. "Logikanya kalau satu kecelakaan, satu orang bisa bantu, satu lagi bisa bantu perlengkapan atau cari informasi," sebutnya.

Selanjutnya pendakian tak diizinkan pada malam hari, mengingat akan sulit membaca jalur karena gelap. Selain tak baik untuk kesehatan pendaki sendiri karena malam hari tumbuhan di hutan mengeluarkan karbondioksida.

Selain itu, lanjut Aden, pihaknya juga tetap menyiapkan tim evakuasi untuk antisipasi terhadap pendaki yang tiba-tiba kecelakaan.

"Kita berdoa jangan ada korban jiwa lah, jangan juga seperti (hilang pendaki) di Semeru," tukasnya.