nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Negara Paling Berbahaya untuk Pengunjuk Rasa

Silviana Dharma, Jurnalis · Kamis 02 Juni 2016 06:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 06 01 18 1403382 negara-paling-berbahaya-untuk-pengunjuk-rasa-Vs24KcTle4.jpg Protes di Mesir. (Foto: Reuters)

DEKLARASI Hak Asasi Manusia (HAM) Universal yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948 di Palais dec Chaillot, Paris, memaktubkan dalam Pasal 19 bahwa setiap orang di dunia memiliki hak dan kebebasan untuk berpendapat serta berekspresi. Deklarasi HAM ini termasuk kebebasan memegang teguh pendapatnya tanpa gangguan, serta kebebasan untuk mencari, menerima, maupun menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa pun tanpa batasan. Aturan ini diadopsi oleh sedikitnya 150 negara di dunia.

Faktanya, pembatasan-pembatasan terhadap demonstrasi tetap saja ada, bahkan di negara yang sudah menjamin kebebasan berpendapat dalam konstitusinya. Pemerintah menetapkan tempat-tempat mana saja yang boleh dipakai untuk berunjuk rasa, menentukan batasan waktu, dan menuntut pengajuan izin terlebih dahulu.

Menembakkan meriam air, gas air mata, barikade polisi antihuru-hara yang tak jarang diikuti tongkat-tongkat yang melayang ke kepala dan tubuh demonstran yang menolak dibubarkan, seolah sudah menjadi prosedur standar di setiap negara untuk menghentikan aksi protes masyarakat.

Amerika Serikat (AS) misalnya, memiliki Amendemen Pertama yang menjamin kebebasan berpendapat. Akan tetapi ketika sebuah pemberitaan sudah menyasar pada borok tokoh politik, militer dan tubuh pemerintahan, atau dianggap unjuk rasanya terlalu berlebihan, tetap saja pemerintah akan turun tangan membungkam kebebasan yang diagung-agungkan itu.

Pada 2014 misalnya, unjuk rasa di Kota Ferguson, Missouri, AS, dimentahkan oleh pasukan keamanan lokal menggunakan senapan, tank, dan senapan serbu M-4. Presiden Barack Obama kemudian mengecam tindakan para polisi antihuru-hara di negara bagian tersebut. Sejak saat itu presiden pertama berkulit hitam di Negeri Paman Sam itu pun memperkenalkan undang-undang baru yang melarang polisi menggunakan persenjataan militer untuk membubarkan massa.

Meski demikian, AS bukan satu-satunya negara yang memiliki sejarah kekerasan atau bentrokan antara aparat dan pengunjuk rasa. Negara federal ini juga masih terbilang sangat layak untuk warga negaranya menyampaikan kritik terhadap seseorang, perusahaan, organisasi, hingga pemerintah.

Karena itu, berikut ini Okezone mengulas negara-negara yang paling berbahaya di dunia untuk melakukan aksi protes. Sebagaimana dikutip dari Discovery News, Kamis (2/6/2016).

1. Palestina

Palestina menjadi salah satu negara di dunia yang terbilang paling berbahaya untuk melakukan unjuk rasa. Hal ini disebabkan kondisi negaranya yang belum sepenuhnya merdeka. Selama lebih dari lima dekade, rakyat Palestina hidup miskin dan menderita di bawah penjajahan dan okupasi Israel di tanah mereka.

Meski kedaulatannya sebagai negara sudah diakui 193 negara per periode 18 Januari 2012, pasukan Israel tetap melakukan agresi di teritori tetangga terdekatnya itu, mengambil lahan mereka, merampas pasokan air bersih, hingga memblokade jalur udara mereka.

Berdasarkan data Amnesty International, kondisi ini memicu pemberontakan. Rakyat Palestina menyebarkan aksi protes di mana-mana. Seringnya, semua aksi itu berujung pada tindak kekerasan, terutama di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Pihak berwenang Israel menerapkan kebijakan baru yang lebih keras untuk menindak para pengunjuk rasa yang adalah warga Palestina di kawasan okupasi ketika gelombang kekerasan tengah meningkat di sana pada Oktober 2015. Per periode Oktober–Desember 2015 itulah lebih dari 2.500 warga Palestina, termasuk ratusan anak-anak, ditahan oleh pasukan Israel. Dengan catatan, sedikitnya 130 pelaku protes terbunuh dalam aksinya.

2. Turki

Negara kedua terparah dalam menindak pengunjuk rasa adalah Turki. Terdapat sejarah kekerasan panjang di negara sekuler ini yang melibatkan ketegangan antara polisi dan demonstran.

Padahal, konstitusi Turki menyatakan, “Setiap orang memiliki hak untuk mengadakan pertemuan tidak bersenjata dan damai dan berdemonstrasi ke jalan tanpa mengajukan perizinan terlebih dahulu.”

Namun yang terjadi di lapangan menunjukkan sebaliknya. Mengkritik presiden bisa dikenai sanksi pidana dan denda. Pada suatu kasus, hubungan rumah tangga terancam retak hanya karena sang istri tidak menyukai Erdogan, dan suaminya merasa itu sikap yang tidak patut melaporkan istrinya ke polisi.

Sementara secara masif, pada periode 2013–2014, jutaan orang yang berdemonstrasi di ruang publik Turki dibubarkan paksa oleh pasukan antihuru-hara. Sedikitnya 45 pengunjuk rasa meninggal, 8.000 orang terluka, ribuan lainnya ditahan, dan ratusan orang menerima dakwaan di pengadilan.

3. Mesir

Di atas kedua negara tersebut, Mesir faktanya menjadi negara terburuk di dunia untuk melakukan protes. Diukur dari banyaknya jumlah pengunjuk rasa yang meninggal saat gelombang Arabian Spring pecah di negara beribukotakan Kairo tersebut pada 2011. Lebih dari 800 demonstran terbunuh dan 6.000 lainnya terluka.

Kekerasan terhadap aksi protes di Timur Tengah sayangnya tidak terdeteksi secara spesifik, karena kerunyaman konflik di negara yang bak medan perang tersebut. Negara lain yang memiliki catatan buruk dalam menangani pengunjuk rasa ialah Ukraina di Benua Eropa dan Hongkong, mewakili skala protes massal di Asia, dengan ribuan orang menjadi korban dalam aksi protesnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini