Image

Nasib Nazaruddin dalam Kasus Pencucian Uang Ditentukan Hari Ini

ant, Jurnalis · Rabu 15 Juni 2016, 11:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 06 15 337 1415592 nasib-nazaruddin-dalam-kasus-pencucian-uang-ditentukan-hari-ini-bWy3PryjUE.jpg M. Nazaruddin

JAKARTA – Nasib mantan bendahara umum DPP Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, dalam kasus gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) ditentukan dalam sidang pembacaan putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, hari ini, Rabu (15/6/2016).

Sidang pembacaan putusan sebelumnya dijadwalkan Rabu 8 Juni 2016, namun karena permintaan Majelis Hakim Tipikor, maka sidang ditunda selama satu minggu. Ketua Majelis Hakim di Pengadilan Tipikor, Ibnu Basuki menyebutkan, alasan penundaan karena rapat musyawarah hakim belum selesai, sehingga putusan belum bisa dibacakan.

Nazaruddin dijerat dengan dua pasal, yaitu gratifikasi dan TPPU. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Nazaruddin dihukum tujuh tahun penjara dan denda Rp1 miliar, subsider 1 tahun kurungan.

Selain itu, jaksa juga menuntut agar harta Nazaruddin dengan nilai sekira Rp600 miliar dalam kasus pencucian uang dikembalikan ke negara.

Perbuatan Nazaruddin dianggap melanggar tiga pasal berlapis yaitu Pasal 12 huruf b UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat (1) KUHP; pasal 3 atau pasal 4 UU UU No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP; dan pasal 3 ayat (1) huruf a, c dan e UU No 15 tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan UU No 25/2003 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Dalam dakwaan pertama, Nazaruddin dinilai terbukti menerima hadiah berupa 19 lembar cek yang jumlah seluruhnya Rp23,119 miliar dari PT Duta Graha Indah (PT DGI) dan Rp17,250 miliar dari PT Nindya Karya.

Penerimaan tersebut karena sudah ada kesepakatan Nazar dengan PT DGI untuk mendapatkan fee sebesar 21-22 persen dari nilai kontrak, sehingga Nazaruddin mau untuk memperlancar proyek sejak proses penganggaran dan pelelangan dengan cara memberikan fee kepada satuan kerja dan panitia pengadaan.

Pada dakwaan kedua, Nazaruddin dinilai terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang mencapai Rp627,86 miliar selama periode 2010-2014, yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi berkaitan dengan jabatan Nazaruddin sebagai anggota DPR.

Untuk menyamarkan, Nazaruddin melakukan perbuatan membuka rekening perusahaan-perusahaan di bawah Permai Grup sebanyak 42 rekening, pembelian tanah, bangunan, kendaraan bermotor dan saham antara lain pembelian saham PT Garuda Indonesia (persero) Tbk senilai total 298.036.000 lembar berjumlah Rp163,918 miliar, saham PT Bank Mandiri senilai total 7.651.500 lembar berjumlah Rp40,14 miliar, saham Krakatau Steel, saham PT Bank Negara Indonesia, serta sukuk yang ditotal sekitar Rp300 miliar.

Sedangkan dakwaan ketiga, Nazaruddin dinilai melakukan tindak pidana pencucian uang hingga mencapai Rp283,599 miliar selama periode 2009-2010, dengan cara menggunakan rekening atas nama orang lain dan rekening perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Permai Grup dengan saldo akhir seluruhnya sebesar Rp50,205 miliar; dibayarkan atau dibelanjakan untuk pembelian tanah dan bangunan seluruhnya sebesar Rp33,194 miliar; dan tanah berikut bangunan yang dititipkan dengan cara seolah-olah dijual (dialihkan kepemilikannya) senilai Rp200,265 miliar.

Vonis kali ini adalah putusan kedua yang akan diterima Nazaruddin setelah sebelumnya sempat divonis dalam kasus korupsi Wisma Atlet.

(fds)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini