nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pendidikan Tinggi Harus Berdaya Saing

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis · Jum'at 17 Juni 2016 10:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 06 17 65 1417652 pendidikan-tinggi-harus-berdaya-saing-Hb4Fq87e1U.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) sedang menggenjot perguruan tinggi Tanah Air untuk berkelas dunia. Upaya ini dilakukan lantaran saat ini Indonesia telah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sehingga kompetisi antarnegara tak bisa dihindari lagi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemristekdikti, Sutrisna Wibawa mengatakan, dalam menghadapi MEA setidaknya Indonesia harus memiliki tenaga terampil dan tenaga ahli. Tenaga terampil diproduksi dari pendidikan diploma atau vokasi. Sedangkan tenaga ahli didapat baik dari lulusan sarjana, master, hingga doktor.

"Dalam pembelajaran, selain diajarkan untuk mengasah inovasi juga perlu memunculkan jiwa kewirausahaan," tuturnya dalam talkshow Internationalization & Industry-Oriented Higher Education System di Hotel Pullman, Jakarta, belum lama ini.

Menghadapi era kompetisi, ucap dia, tidak bisa hanya dilihat melalui pendidikan tinggi di dalam negeri. Tetapi, harus dibandingkan dengan negara-negara lain. Kemristekdikti sendiri terus berusaha meningkatkan standar pendidikan tinggi guna melahirkan lulusan yang berkualitas, inovatif, dan memiliki daya saing nasional dan global.

"Kenapa kita harus membandingkan? Karena daya saing. Kalau hanya melihat Indonesia kita merasa sudah baik, tetapi jika dibandingkan dengan negara lain. ternyata masih banyak yang harus ditingkatkan," ujarnya.

Dalam talkshow tersebut, hadir pula Rektor Swiss German University (SGU), Filiana Santoso; Presiden Direktur dan CEO PT Siemens Indonesia, Josef Winter; serta pengamat pendidikan, Ina Liem. Filiana menilai, sistem pembelajaran di pendidikan tinggi tidak sekadar kurikulum dan kompetensi, tetapi juga mencakup bagaimana cara guru atau dosen dalam menyampaikan materi kepada mahasiswa.

"Mahasiswa zaman sekarang berbeda dengan dulu. Jadi cara mengajarkan ke anak juga harus baru. Paling tidak membuat mereka suka terhadap pelajaran tersebut," pungkasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini