nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Biaya Sekolah Mahal, Orangtua Tak Punya Pilihan

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis · Selasa 21 Juni 2016 17:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 06 21 65 1421419 biaya-sekolah-mahal-orangtua-tak-punya-pilihan-55JPUSiZwX.jpg Siswa berada di ruang kelas. (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Mahalnya biaya masuk sekolah tak membuat seorang ibu bernama Difa mengurungkan niat untuk memasukkan anaknya di sebuah SD swasta berbasis Islam. Padahal, ibu dua anak ini harus merogoh kocek hingga Rp10 juta untuk uang pangkal berikut seragam dan buku. Dia juga harus menyiapkan Rp525 ribu untuk SPP bulanan.

Rela mengeluarkan banyak uang, bukan berarti Difa tak mengeluh. Sebab, menurut dia, di sisi lain banyak sekolah dengan biaya terjangkau namun masih bisa memberikan fasilitas yang cukup baik.

"Dengan biaya tersebut sekolah pasti punya perhitungan, misalnya untuk operasional dan kegiatan lainnya. Tetapi memang kalau saya lihat di sini ada komersialisasi pendidikan. Ada juga SD yang bayarannya tidak semahal itu, tetapi tetap bisa memfasilitasi siswa-siswanya," ujarnya dihubungi Okezone, belum lama ini.

Memutuskan untuk menyekolahkan anak di SD Islam terpadu (SDIT) tentu dengan berbagai pertimbangan. Pertama, Difa ingin agar anaknya memiliki lingkungan pergaulan yang kondusif, terutama dalam pembentukan karakter dan akhlak. Kedua, yakni terkait sistem belajar mengajar di sekolah tersebut yang dinilai cukup baik dan modern.

"Orangtua karena butuh anaknya untuk sekolah, jadi terkadang kalau lihat rincian biaya tidak dicek lagi. Di sekolah anak saya juga begitu, kami diberi rincian, misalnya uang kegiatan Rp 2 juta, seragam Rp500 ribu, dan lain sebagainya. Memang logis, tetapi tidak dilihat lagi," tuturnya.

Difa berpendapat, seharusnya ada pemerataan dalam biaya pendidikan. Sebab, dia pun tak menampik jika banyak SD yang murah bahkan gratis. Tetapi di sisi lain, sekolah swasta banyak yang mematok harga selangit.

"Waktu saya survei malah ada sekolah yang uang pangkalnya sampai Rp30 juta. Sangat mahal. Saya juga ingin, tetapi kan harus disesuaikan dengan kemampuan," sebutnya.

Sedangkan keputusannya tidak memilih SD negeri bukan berarti karena tidak percaya akan kualitasnya. Dia menambahkan, hal tersebut telah menjadi keputusan bersama dengan suaminya. Belum lagi usia anaknya yang belum genap enam tahun sehingga rentan terlempar atau tidak diterima. (ira)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini