Buntut Brexit, Masjid Kampus Inggris Dirusak saat Maghrib

Agregasi Antara, · Selasa 28 Juni 2016 15:13 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 28 18 1427451 buntut-brexit-masjid-kampus-inggris-dirusak-saat-maghrib-vPoYmPhhfH.jpg Ilustrasi. Masjid di London, Inggris. (Foto: Wikipedia)

PERTH - Hasil referendum Uni Eropa yang diumumkan pada Jumat 24 Juni 2016, berbuntut terjadinya berbagai aksi rasis. Setelah para pendatang dari Polandia yang diusir keluar, komunitas Muslim di Negeri Ratu Elizabeth juga didera perlakuan tidak bersahabat.

Masjid Kampus di Newcastle, Inggris, menjadi salah satu korbannya. Tempat ibadah umat Islam itu mendadak diserang sekelompok orang tidak dikenal pada Jumat 24 Juni 2016 sekira pukul 22.00 waktu setempat (Jumat 25 Juni 2016 sekira pukul 04.00 WIB).

Menurut penuturan seorang mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Universitas Newcastle, saat serangan terjadi mereka sedang Salat Maghrib. Sedikitnya, empat orang mendatangi gedung masjid dan mulai merusak kaca di tempat salat putri. Setelah menuntaskan aksi vandalismenya, para pelaku berupaya kabur. Namun, segera ditangkap pihak berwajib.

Serangan bernuansa anti-Muslim ini disebut-sebut berkaitan dengan aksi unjuk rasa yang digelar oleh English Defence League (EDL) di hari yang bersamaan.

Sementara itu, insiden kurang menyenangkan juga terjadi setahun lalu saat tenda "Discover Islam Week" dimasuki orang. Kala itu, memang tidak ada petugas yang menjaga. Kursi-kursi dirusak, tepat sehari sebelum acara resmi dibuka. Kali ini, kejadian serupa terjadi di depan gedung Student Union di Universitas Newscastle.

(Baca juga: Rasisme Terhadap Imigran Bermunculan Pasca-Brexit)

Sebelumnya, sentimen negatif yang sama dirasakan oleh warga Polandia yang sudah lama menetap turun temurun di Britania Raya. Mereka diusir dengan kartu-kartu dan seleberan bertuliskan, ‘Leave the EU, No More Polish Vermin, yang kira-kira berarti, ‘Tinggalkan Uni Eropa, Tidak Ada Lagi Kutu Polandia.

"Putri saya bercerita seseorang menulis 'pulanglah ke Romania' di dinding toilet putri di sekolah hari ini," tulis @JamesTitcombe.

Polisi sedang mencari penyebar kartu ini, yang bisa diganjar hukuman penjara tujuh tahun karena menyebarkan kebencian rasial.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini