Keluarnya Inggris dari Uni Eropa Bisa Saja Tidak Terjadi

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Rabu 29 Juni 2016 17:32 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 29 18 1428438 keluarnya-inggris-dari-uni-eropa-bisa-saja-tidak-terjadi-GDmtxuhnzO.jpg Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond bersama Menteri Luar Negeri AS John Kerry (Foto: Toby Melville/Reuters)

WASHINGTON – Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) John Kerry mengatakan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) bisa saja tidak pernah terjadi. Seperti diketahui, 52 persen warga Inggris Raya memilih untuk keluar dari UE pada referendum yang dilaksanakan Kamis 23 Juni 2016.

(Baca juga: Rakyat Inggris Telah Berkehendak, Cheerio Uni Eropa)

Pernyataan itu dikemukakan Kerry usai berbicara dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron. Suksesor Hillary Clinton itu mengatakan, London tidak dalam posisi terburu-buru untuk keluar. Kerry juga mengatakan Cameron merasa tidak berdaya untuk menegosiasikan keluarnya Inggris Raya.

Seperti diketahui, politikus Partai Konservatif itu salah satu pendukung ‘Remain’ atau tetap berada di blok UE. “Ini adalah perceraian yang rumit,” ujar Kerry di Washington, AS, seperti dimuat Channel News Asia, Rabu (29/6/2016).

Pria berusia 72 tahun itu mengatakan, Cameron merasa jijik untuk mengaktifkan Pasal 50 dalam traktat Lisabon di mana proses keluarnya Inggris dapat memakan waktu hingga dua tahun. Kerry sendiri dalam kapasitasnya sebagai Menlu AS mengaku tidak ingin sekutunya itu keluar dari UE.

“Sebagai Menlu saya tidak ingin melempar mereka keluar UE hari ini. Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Namun, ada beberapa cara untuk membuat mereka tetap berada di UE,” papar Kerry. Pria kelahiran Colorado, AS itu diketahui mengunjungi Cameron di London pada Senin 27 Juni 2016.

Washington selama ini menjadi pendukung utama Inggris dalam peran mereka di UE. Pemimpin-pemimpin AS terkejut dengan hasil referendum ketika sebagian besar warga Inggris Raya memilih untuk keluar. Pejabat-pejabat AS kini meminta sebuah debat sehat antara London dan Brussels –kantor pusat UE– untuk menghasilkan kesepakatan yang dapat membuat keduanya tetap dekat.

(wab)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini