nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rp500 Juta untuk Satu Kursi PTN

Afriani Susanti , Jurnalis · Rabu 29 Juni 2016 18:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 06 29 65 1428676 rp500-juta-untuk-satu-kursi-ptn-X2VQQjnZeZ.jpg Ilustrasi : (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Hanya sekira 17 persen dari total peserta SBMPTN 2016 yang diterima di 78 kampus negeri. Hal ini menunjukkan ketatnya persaingan menembus seleksi PTN.

Status sebagai mahasiswa PTN sendiri menjadi daya tarik jutaan alumni SMA dan sederajat mengikuti berbagai seleksi. Di sisi lain, fenomena ini menjadi celah bagi oknum-oknum tak bertanggung jawab dalam mengeruk keuntungan.

Salah satu orangtua mahasiswa berinisial B mengungkapkan, pada 2013 dia mendapat tawaran masuk PTN bagi putri sulungnya. Jalur "pintu belakang" itu dicetuskan seorang satu dosen di sebuah kampus negeri ternama di panitia lokal Jakarta. Tawaran tersebut tentu tidaklah gratis.

"Oknum itu bilang, jika saya ingin si sulung masuk ke PTN tersebut, harus bayar Rp500 juta," ungkap B kepada Okezone, belum lama ini.

Wanita yang merintis usaha rumahan ini terkejut mendengar permintaan si oknum. Bahkan, ujar B, oknum tersebut mengancam, jika tidak membayar, maka anak sulungnya tidak akan bisa diterima di PTN mana pun.

"Saya kan pedagang kecil, ya tidak mungkin mau masuk ke PTN sampai harus bayar Rp500 juta. Untuk mereka mungkin kecil, tapi bagi saya dan suami kan besar sekali. Saya juga tidak memaksakan anak untuk masuk PTN. Semua keingian si anak. Saya dan suami hanya mendukung," paparnya.

B pun pasrah jika si sulung memang belum mendapatkan kesempatan masuk PTN. Gagal di Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), si anak pun mengikuti

jalur SBMPTN. Ibu dan anak itu berusaha tidak mengindahkan ancaman oknum dosen tadi.

"Saya ajak anak saya untuk berdoa bersama-sama. Karena kalau memang rejeki juga tidak akan ke mana. Saya memang orang enggak punya, tapi saya enggak mau pakai cara-cara curang seperti itu. Walaupun orang itu sampai ancam-ancam saya tidak bisa masuk PTN," ucap wanita berkerudung itu.

Hasil SBMPTN pun diumumkan. Nyatanya, sang anak berhasil mendapatkan kursi di salah satu PTN di Jawa Tengah. Saat ini, dia masih aktif menjalani kuliah di jurusan Kesehatan Masyarakat.

"Ya saya bersyukur banget bisa diterima. Bukan hanya senang, tapi lega juga karena lewat jalur yang benar," imbuhnya.

Ibu dua anak tersebut mengaku, tindakan curang seperti ini bukan kali pertama ditemuinya. Ketika masih duduk di bangku SMA, sang putri juga pernah diajak berbuat curang saat akan menjalani ujian nasional (UN).

"Jadi waktu SMA itu, teman-temannya patungan untuk membeli kunci jawaban. Saya nasihati anak saya, kunci jawaban itu belum tentu benar, jangan diikuti kalau tidak mau rugi. Akhirnya dia nurut, teman-teman yang lain pada beli, dia enggak mau," tambahnya. (afr)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini