Brexit Bikin China Kehilangan Teman Baik di Uni Eropa

Silviana Dharma, Okezone · Minggu 03 Juli 2016 02:02 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 02 18 1431512 brexit-bikin-china-kehilangan-teman-baik-di-uni-eropa-qEDalclIU9.jpg Xi Jinping saat berkunjung ke kantor David Cameron. (Foto: Andy Rain/EPA)

BEIJING – Banyak negara merasa kecewa dengan hasil referendum demokratis pada 23 Juni 2016. Sebanyak 52 persen warga Britania Raya memutuskan untuk bercerai dari Uni Eropa setelah enam dekade bersama.

Selain 27 negara yang tergabung dalam persekutuan ekonomi dan politik se-Eropa, ternyata ada satu negara lagi yang benar-benar dibuat sedih dengan pengumuman pada 24 Juni lalu yakni China. Negeri Tirai Bambu disebut-sebut akan kehilangan teman terbaiknya di Benua Biru, jika Brexit jadi terlaksana.

“Dalam beberapa tahun terakhir, London sering menjadi pendamping bagi perdagangan dan kepentingan ekonomi China di Brussels. Padahal dua rekan China lain di Eropa, yakni Jerman dan Prancis, tidak menunjukkan kecenderungan serupa seperti peranan Inggris pada waktu itu,” kata Ketua Bidang Kebijakan China di bawah Uni Eropa, Jan Gaspers saat ditemui di Berlin, dikutip dari Washington Post, Minggu (3/7/2016).

Hubungan China dan Inggris memang terbilang baik. Padahal China sering kali berseberangan dengan negara-negara barat. Dalam kunjungannya ke Downing Street 10, Perdana Menteri Inggris David Cameron bersulang segelas bir dengan Presiden China Xi Jinping sebagai simbol mengikat hubungan baik.

Seorang diplomat barat yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkap, Britania Raya selama ini telah menjadi satu-satunya negara yang bersedia membantu China dalam aspek perdagangan dunia, tanpa syarat.

“Tapi sekarang dia (PM David Cameron) akan hengkang dari jabatannya. Masa depan pemandu sorak terbesar China di pemerintahan Inggris pun kian tidak pasti,” terang kepala keuangan Inggris, George Osborne, menilai dampak Brexit bagi China.

Sementara itu, di tubuh pemerintahan China berkembang kekhawatiran posisi Inggris yang terpisah dari pasar satu pintu terbesar di Barat akan memicu China bergantung pada hubungan istimewa dengan Washington. Alih-alih semakin mendekatkan diri dengan Asia, guna melestarikan pengaruh globalnya.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini