nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

IDI Tuntut Pemerintah Ungkap Produsen Vaksin Palsu

Salsabila Qurrataa'yun, Jurnalis · Sabtu 16 Juli 2016 06:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 07 16 337 1439256 idi-tuntut-pemerintah-ungkap-produsen-vaksin-palsu-YK6wpfJJXW.jpg Vaksin (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA - Peredaran vaksin palsu di sejumlah rumah sakit telah meresahkan masyarakat. Pemerintah dan aparat penegak hukum pun diminta tidak hanya fokus terhadap pengguna dan distributor, melainkan juga memburu produsennya.

"Kami menuntut produsen itu yang paling penting diungkap. Karena sumbernya di situ," kata Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng Muhammad Faqih kepada Okezone, Sabtu (16/7/2016).

Daeng mengatakan, agar kasus vaksin palsu tidak terulang lagi, pengawasan harus segera dibenahi dari level produksi, distribusi hingga rumah sakit maupun klinik yang menggunakan vaksin palsu. Namun, Daeng tetap meminta pemerintah untuk menyelidiki detil terkait dugaan rumah sakit pengguna vaksin palsu.

Pasalnya, sambung Daeng, bisa saja rumah sakit maupun klinik tersebut adalah korban juga dalam kasus tersebut. "Jadi kadang rumah sakit, klinik maupun dokter kurang tahu membedakan vaksin palsu dengan yang asli. Karena sebelum membeli mereka cek dari bungkusnya sama persis, label sama, isi dan warnanya pun sama. Hanya bedanya diharga yang miring," ujarnya.

(Baca: Produsen Vaksin Palsu Bukan hanya Pasutri di Bekasi)

"Mungkin itu manusiawi, mencari ekonomis dan lebih murah. Kita kan belum tahu, yang disebutkan itu memang mengedarkan vaksin palsu atau bukan. Kalau bukan kan berarti korban. Kalau benar berarti itu masuknya sudah ke ranah hukum dan kriminal, segera harus di cari tahu," imbuhnya.

Ia pun meminta pemerintah untuk tidak sepotong-sepotong dalam memberikan informsi ke publik. Hal tersebut bisa merugikan nama baik rumah sakit, klinik, maupun dokter.

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek sebelumnya mengungkap berdasarkan catatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), bahwa vaksin palsu tersebar di 37 titik pada sembilan provinsi. Sementara itu sudah dirilis 14 rumah sakit dan klinik yang disebut sebagai pengguna vaksin palsu.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini