Praktik Pemasungan di Cianjur Masih Tinggi

Agregasi Pikiran Rakyat, · Jum'at 22 Juli 2016 16:58 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 22 525 1444460 praktik-pemasungan-di-cianjur-masih-tinggi-JfnUt4nbT6.jpg foto: ilustrasi

CIANJUR - Siti Maspuroh (26), warga Kampung Tegal Peso, Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Cianjur, terus mengamuk saat petugas medis dari RSUD Cianjur bersama pengurus Komunitas Sehat Jiwa (KSJ) Cianjur akan membawanya ke rumah rehabilitasi KSJ. Pada Kamis sore, 21 Juli 2016, perempuan yang sedang hamil 9 bulan itu pun akhirnya dibebaskan.

Siti diketahui dipasung ketika kandungannya memasuki usia tiga bulan. Dalam kotak kayu berukuran 2x2 meter, Siti dipasung oleh warga setempat sebab sering menyerang anak-anak dan meresahkan warga. Ibunda Siti, Reza (38) pun tak bisa berbuat banyak untuk menolong kondisi anaknya yang telah mengalami gangguan jiwa sejak 4 tahun silam.

"Dulu Siti pernah membakar rumah, kalau sudah kumat enggak ada yang berani. Makanya oleh warga dipasung, saya pun tak tahu harus bagaimana. Apalagi kondisinya sedang hamil 9 bulan, saya tidak mampu mengurus Siti dan anak dalam kandungannya. Kondisi (ekonomi) saya aja begini (lemah)," ucapnya.

Menurut Reza, anaknya sudah mengalami depresi sejak menikah pertama kali. Pernikahan ketiganya membuat kondisi jiwa Siti semakin parah, sebab suaminya pergi saat Siti sedang mengandung.

Saat dilepaskan, Siti mengenakan baju daster ungu dan kerudung putih panjang. "Anak saya ini mau dikasih nama Syamsul Bahri," ujarnya sambil terus mengusap perut.

Siti merupakan satu dari puluhan orang dengan ganguan jiwa (ODGJ) yang dipasung. Data KSJ menunjukkan, pemasungan dipilih warga sebagai cara untuk mengatasi masalah kejiwaan. Ketua KSJ, Roy Aninditio menyebutkan, masih ada 10 warga ODGJ yang dipasung tersebar di Kecamatan Tanggeung, Cipanas, Pacet, Haurwangi, Cianjur, Kadupandak.

KSJ mencatat, sedikitnya 200 orang yang dibebaskan dari pasungan sejak 2009 silam. Selama ini, kata dia, pembebasan pemasungan di Cianjur murni program dari KSJ. Pihaknya enggan berkomentar banyak tentang kontribusi pemerintah setempat untuk memberikan penanganan terhadap warganya yang dipasung.

"Masyarakat memandang pemasungan adalah jalan terbaik, padahal tindakan tersebut sudah dilarang sesuai Undang-undang nomor 18/2014 tentang kesehatan jiwa. Pihak dinas pun hanya diam, tidak diantar ke pelayanan medis atau rehab ke psikososial. Hanya menyuarakan, mengimbau. Yasudah, kami saja yang bergerak," ujar Roy usai pelepasan Siti.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cianjur, Sumitra, saat dihubungi melalui saluran telepon menuturkan, dinas sepenuhnya menyerahkan penanganan orang dengan gangguan jiwa kepada masyarakat.

"Penanganan dari kami sebetulnya tidak ada. Kami hanya bersifat mengimbau agar orang-orang tersebut tidak dipasung," ujar dia.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini