nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

407 Rumah Rusak Akibat Pergerakan Tanah di Sukabumi

ant, Jurnalis · Senin 25 Juli 2016 20:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 07 25 525 1446521 407-rumah-rusak-akibat-pergerakan-tanah-di-sukabumi-GYNTUs6wjV.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

SUKABUMI - Jumlah rumah yang rusak di Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, akibat bencana pergerakan tanah hingga kini sudah mencapai 407 rumah.

Sesuai data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi jumlah rumah yang rusak di Desa Nagrakjaya sebanyak 336 unit dengan rincian rusak berat sebanyak 148 unit, rusak sedang 91 unit dan rusak ringan sebanyak 39 unit. Untuk Desa Cimenteng ada 71 unit, sebanyak 66 unit terncam dan lima terisolir.

"Setiap harinya jumlah rumah yang rusak semakin bertambah, karena tanah terus bergerak," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi, Usman Susilo di Sukabumi, Senin (25/7/2016).

Menurutnya, selain rumah ada juga fasilitas umum yang rusak, seperti masjid dan musala, Kantor Desa Nagrakjaya, majelis taklim dan puskesmas pembantu.

Selain itu, untuk warga yang memilih mengungsi, pihaknya sudah menyediakan tempat pengungsian sementara yakni di SDN Nagrakjaya, di sekolah tersebut sudah disediakan kebutuhan darurat untuk korban bencana.

Dari pendataan yang dilakukan pihaknya, ada sekitar 974 jiwa yang terdampak bencana yang juga pernah terjadi pada 2012 lalu. Namun, dari sekian banyak korban yang rumahnya tidak bisa lagi dihuni, mayoritas memilih mengungsi ke rumah saudaranya atau tetangganya.

"Untuk keamanan harta benda para pengungsi, petugas dari Polri dan TNI terus bersiaga di lokasi bencana. Hingga kini kami masih melakukan pendataan, karena data kerusaka terus bertambah," tambah Usman.

Sementara, Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Agung Citra mengatakan Tim Geologi dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Energi dan Mineral (PESDM) Kabupaten Sukabumi, sudah ke lokasi bencana untuk mengkaji kondisi tanah di daerah bencana.

"Kami masih menunggu laporan resmi dari PESDM dari hasil kajian yang dilakukan pihaknya. Namun informasinya, pergerakan tanah di dua desa ini masuk dalam kategori kerentanan tinggi," katanya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini