nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Siswa Penghayat Kepercayaan Tidak Naik Kelas

ant, Jurnalis · Selasa 26 Juli 2016 22:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 07 26 512 1447558 siswa-penghayat-kepercayaan-tidak-naik-kelas-MVqnrAslrh.jpg Ilustrasi

SEMARANG - Salah satu siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 7 Semarang berinisial ZN, adalah seorang penghayat kepercayaan. Setiap hari, ia menaiki sepeda dari rumah ke sekolah yang berjarak sekitar 12 kilometer.

"Memang setiap hari dia (ZN) naik sepeda ke sekolah. Bapaknya pernah menawari sepeda motor, tetapi tidak mau," kata Sugiarto, ketua RT domisili ZN di kawasan Pedurungan Semarang, Selasa (26/7/2016).

Ia terpaksa tidak naik kelas gara-gara menolak mengikuti ujian praktik mata pelajaran pendidikan salah satu agama karena penghayat kepercayaan. Dan pihak sekolah berargumen, hanya pendidikan enam agama yang ada di kurikulum, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.

Sugiarto menyatakan, dirinya mengenal ZN sebagai sosok siswa yang cerdas dan pintar, apalagi bisa sekolah yang dulu bernama Sekolah Teknologi Menengah (STM) Pembangunan Semarang yang tergolong favorit.

"Anaknya memang sederhana. Kakaknya dulu juga bersekolah di SMK Negeri 7 Semarang dan sekarang sudah lulus. Kalau kakaknya menganut agama Islam meski orang tuanya penghayat kepercayaan," jelasnya.

Dalam keseharian, keluarga pasangan suami istri T dan S itu juga dikenal sangat baik berinteraksi dengan warga, termasuk aktif dalam kegiatan warga, seperti peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dan halal bihalal.

Hanya saja, khusus untuk perayaan keagamaan yang digelar warga sekitar, lanjut dia, yang bersangkutan, yakni orang tua ZN memohon izin tidak bisa ikut dan warga sekitar juga sudah sangat memahami.

"Memang, ayahnya ZN menyampaikan kepada saya bahwa beliau penghayat kepercayaan. Dulu, sempat mengurus perpanjangan kartu tanda penduduk (KTP) untuk merevisi kolom agama, namun tidak jadi," katanya.

Dari kelurahan, mensyaratkan diberikan pilihan enam agama, sementara yang bersangkutan tidak mau karena tidak sesuai dengan yang diyakininya sehingga di KTP-nya masih tertulis agama Islam.

"Saya kasihan kalau ZN tidak bisa naik kelas. Anak ini pintar dan baik. Sederhana juga. Berangkat sekolah saja memilih naik sepeda, padahal jarak ke sekolahnya kan jauh," katanya.

Senada dengan itu, Joko yang tinggal di samping rumah keluarga ZN membenarkan setiap hari siswa tersebut berangkat sekolah menggunakan sepeda onthel meski jarak menuju sekolahnya jauh.

"Kalau dengan orang tuanya, saya sering ketemu ngobrol. Namun, dengan ZN jarang. Cuma, setiap pagi saya sering lihat dia naik sepeda onthel ke sekolah. Pernah ketemu juga di jalan naik sepeda," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini