nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Mata Pelajaran Agama, Siswa Penghayat Kepercayaan Dapat Nilai Nol

Mustholih, Jurnalis · Rabu 27 Juli 2016 05:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 07 27 512 1447648 di-mata-pelajaran-agama-siswa-penghayat-kepercayaan-dapat-nilai-nol-tSzogcjn4F.jpg Ilustrasi

SEMARANG - Sekolah Menengah Kejuruan 7 Semarang menangguhkan kenaikan kelas siswanya, ZN, karena memiliki nilai pelajaran Agama 0 alias kosong.

Kepala Sekolah SMK 7 Semarang, M Sudarmanto, menuturkan ZN yang pada saat masuk sekolahnya dua tahun lalu menuliskan Agama Islam pada formulir pendaftaran online dan tertulis itu enggan mengikuti pelajaran prakter Baca Alquran dan Salat dengan alasan menganut Aliran Kepercayaan.

"Pada saat kelas 10 yang bersangkutan mengikuti pelajaran Agama Islam, tapi teori. Pada saat kelas 11 dia mengikuti pelajaran Agama ISlam tapi pada saat pelajaran praktik Baca Alquran dan Salat, dia tidak bersedia. Alasannya Penganut Kepercayaan," kata Sudarmanto, Semarang, Jateng, Selasa (26/7/2016).

Menurut Sudarmanto, SMK 7 Semarang beberapa kali memanggil Taswidi sebagai ayah ZN ke sekolah memberitahu soal anaknya yang tidak mau mengikuti pelajaran praktek. taswidi diingatkan bahwa ZN bakal tidak bisa naik kelas apabila pelajaran Agamanya tidak memiliki nilai.

"Saat itu orang tuanya menjawab tidak masalah kalau tidak naik kelas. Sesuai dengan kriteria kenaikan kelas, yang bersangkutan tidak memiliki nilai Pelajaran Agama, akhirnya tidak bisa naik kelas," terang Sudarmanto.

Sudarmanto membantah pihaknya sempat memaksa agar ZN masuk Islam agar bisa naik kelas. "Tapi, yang bersangkutan tidak mengikuti Pelajaran Agama Islam sehingga nilai agamanya kosong," tegas Sudarmanto.

ZN sempat diminta memilih salah satu dari enam agama yang diakui pemerintah sebagai salah satu Pelajaran Agama yang harus diikuti. tujuannya, agar syarat kompetensi untuk bisa naik ke kelas XII bisa terpenuhi.

"Kurikulum juga belum memfasilitasi pendidikan aliran kepercayaan. Adanya, pendidikan enam agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu," terang Sudarmanto.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini