nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menilik Dusun Pengemis di Bali

Raiza Andini, Jurnalis · Jum'at 29 Juli 2016 06:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 07 29 340 1449640

KARANGASEM - Dusun Munti Gunung, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali terkenal dengan sebutan dusun gelandangan dan pengemis. Bukan tanpa alasan dusun tersebut dinamai dengan ‘Dusun Gepeng' bila melihat sejarahnya.

Perlu tenaga ekstra dan waktu yang panjang untuk menuju dusun ini. Jarak tempuh dari Denpasar hingga sampai ke Munti Gunung diperkirakan mencapai 90 kilometer lebih melewati Gunung Batur dan Agung. Hamparan pemandangan indah seperti persawahan dan laut menjadi teman di perjalanan hingga rasa lelah pun terobati.

Kepala Desa Tianyar Barat, I Gede Agung Pasrisak Juliawan menceritakan, trah dalem dari Kerajaan Taman Bali, Bangli datang ke Munti Gunung lantaran diasingkan oleh keluarganya. Bangl bersembunyi dengan menyamarkan nama menjadi I Made pada tahun sebelum masehi.

Setelah itu, banyak pendatang masuk Munti Gunung. Mulai lah kehidupan bermasyarakat dan terjadilah jual beli secara barter dengan desa tetangganya di sekitaran Karangasem. Mereka menukar hasil taninya seperti beras, jagung dan lain sebagainya secara bertahun-tahun ke wilayah lainnya.

Karena kesulitan untuk mengakses jalan, banyak orang yang iba dengan warga Munti Gunung. Hingga akhirnya banyak orang yang memberikan uang kepada warga dusun tersebut secara cuma-cuma tanpa menjual hasil tani mereka.

"Selama bertahun-tahun warga setempat melakukan itu, dan sudah jadi tradisi. Mereka tidak memberi hasil tani kami, jadinya mereka dikasih-kasih saja, banyak warga yang jadinya begitu sampai sekarang. Ada yang jadi pengemis dan gelandangan. Asal mulanya ya dari perantauan itu, jadi mereka ketagihan minta-minta sampai sekarang," kata Pasrisak ketika berbincang dengan Okezone di Munti Gunung, Karangasem, Kamis 28 Juli 2016.

Pasrisak mengakui banyak warga miskin yang tak terjamah pemerintah di wilayahnya hingga mereka menjadi gelandangan dan pengemis di kota-kota besar seperti Badung dan Denpasar, Bali.

"Karena juga mereka sudah terbiasa meminta-minta sejak dulu, jadinya melihat kota besar seperti itu dengan mencari uang secara mudah," ujarnya.

Tercatat sebanyak 80 dari 1500 Kepala Keluarga (KK) di dusun yang berada di kaki Gunung Batur itu di bawah garis kemiskinan. Mereka hampir tak memiliki pekerjaan tetap. Alahasil, bekerja seperti kuli serabutan maupun pengemis dan gelandangan.

Sementara itu, lanjut Pasriak, pihaknya merasa kesulitan untuk memberikan arahan kepada warganya tersebut untuk tidak menjadi gepeng di kota besar. Mengingat, melihat sejarah dan teritorial dusun tersebut sudah termaktub akan menjadi gepeng.

"Kita tidak punya lapangan pekerjaan yang memadai, dan tradisi mereka sejak dulu ya seperti itu. Jadi kami sulit untuk memberi pemahaman," ungkap dia. (fas)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini