nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polda Sumut Terjunkan Ratusan Personel Pasca-Rusuh di Tanjung Balai

ant, Jurnalis · Sabtu 30 Juli 2016 08:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 07 30 340 1450705 polda-sumut-terjunkan-ratusan-personel-pasca-rusuh-di-tanjung-balai-FXiMUZkwfB.jpg Ilustrasi (Okezone)

MEDAN – Polda Sumatera Utara mengirimkan personel bantuan untuk mengamankan Kota Tanjung Balai setelah kerusuhan berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di wilayah itu, Jumat 29 Juli 2016 malam.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, bahwa personel tambahan itu berasal dari Polres Asahan sebanyak 100 personel, Polres Batubara 30 personel, dan Satuan Brimob yang bermarkas di Tebing Tinggi 75 personel.

“Pengamanan situasi juga dibantu TNI dari Kodim 0208/Asahan dan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Tanjung Balai,” kata Rina, Sabtu (30/7/2016).

(Baca: Kronologi Perusakan Tempat Ibadah di Tanjung Balai)

Seluruh personel tambahan tersebut akan mendukung kinerja Polres Tanjung Balai untuk mengamankan situasi pasca-kerusuhan. Selain mengerahkan personel bantuan, pihak kepolisian terus melakukan koordinasi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mengatasi kerusuhan berbau SARA ini.

Sebenarnya, pada Sabtu sekira pukul 04.30 WIB konsentrasi massa yang terlibat atau sekadar menyaksikan kerusuhan itu sudah membubarkan diri.

Namun, personel di lapangan juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, termasuk menghalau kumpulan massa untuk menghindari terjadinya kerusuhan susulan.

Pihak kepolisian terus melakukan penyelidikan mengenai kerusuhan itu, termasuk mendata kerusakan yang timbul bersama unsur pemerintah daerah setempat.

"Hingga Sabtu pagi, situasi di Tanjung Balai sudah kondusif. Warga diimbau tetap tenang dan tidak mudah diprovokasi," ujar Rina.

Sebelumnya, terjadi kerusuhan berbau SARA di Kota Tanjung Balai yang diduga karena adanya keberatan dari seorang etnis Tionghoa atas volume azan yang dikumandangkan di salah satu masjid.

Tanpa diduga, informasi itu cepat menyebar dan berujung pada kerusuhan yang berbau SARA. Perisitiwa itu menyebabkan sembilan rumah ibadah milik umat Budha rusak. (fas)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini