nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wali Murid Keluhkan Mahalnya Biaya Pendidikan di Kota Santri

Zen Arivin, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2016 18:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 08 05 65 1456231 wali-murid-keluhkan-mahalnya-biaya-pendidikan-di-kota-santri-jnXXUxCA6K.jpg Ilustrasi : (Foto: Dok. Okezone)

JOMBANG - Para orang tua di Kabupaten Jombang mulai mengeluhkan mahalnya biaya yang wajib dikeluarkan di awal tahun ajaran baru kali ini. Bagaimana tidak, para siswa baru dipaksa untuk membeli seragam serta buku Lembar Kerja Siswa (LKS).

EK, (34) orangtua murid SD di Kabupaten Jombang mengatakan, pada tahun ajaran baru ini ia terpaksa harus mencari dana talangan guna mencukupi kebutuhan biaya pendidikan anaknya. Sebab, pada moment ini, pihak sekolah mewajibkan bagi siswa untuk membeli seragam serta buku LKS.

"Kalau ditotal lebih dari Rp500 ribu. Itu untuk membeli seragam batik Jombang, buku LKS yang diwajibkan dari sekolah," ungkapnya kepada awak media, Senin 1 Agustus 2016.

EK lantas merinci besarnya biaya yang harus dikeluarkan pihaknya untuk kebutuhan sekolah anak semata wayangnya itu. Untuk kebutuhan seragam batik, ia harus membayar sebesar Rp400 ribu. Sedangkan untuk LKS, dirinya harus membayar Rp170 ribu.

"Belum biaya lain-lain. Misalnya, biaya jahit seragam. Kemudian buku-buku tambahan lainnya. Saya dengar masih ada buku LKS dari sekolah lagi yang nantinya harus dibeli," imbuhnya.

Menurut EK, setiap siswa memang diwajibkan untuk membeli seragam batik Jombang serta buku LKS itu. Sebab, sebelum diminta untuk membayar, seragam dan buku LKS itu dibagikan terlebih dahulu kepada siswa.

"Meskipun tidak ada kata-kata wajib membeli, tapi seragam dan buku itu dibagikan langsung. Baru kemudian, anak saya diminta mengatakan kepada orangtua, kalau harus membayar buku dan seragam. Kalau seperti itu otomatis kita wajib beli," terangnya.

Selain itu, pihak sekolah juga membagikan surat edaran dari penerbit salah satu buku LKS kepada para siswa. Di mana, dalam surat itu para siswa diminta untuk membeli buku LKS tersebut.

"Ini yang bagikan gurunya. Sepertinya sekolah dan penerbit bukunya sudah kongkalikong. Soalnya, sewaktu membagikan surat edaran itu, bukunya ikut dibagikan ke siswa, sehingga siswa wajib membayar," ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah SDN Jombang 2 Joko Suhartono mengatakan, pihaknya tidak pernah memaksa para wali murid untuk membeli buku LKS yang ditawarkan beberapa penerbit maupun yang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang.

"Tidak ada yang memaksa. Jika siswa tidak membelinya juga tidak apa-apa. Hanya saja, siswa nanti bisa tertinggal dengan siswa lainnya," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga membantah adanya surat edaran yang diberikan kepada wali murid. Menurutnya, surat edaran itu berasal dari penerbit.

"Sekolah hanya dititipi saja. Kami hanya sebatas membantu menyampaikan surat edaran itu ke orang tua wali murid. Sama untuk yang dari Disdik juga, tidak ada paksaan," terangnya. (afr)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini