Share

Menag: MTQ Kembali ke Khittahnya Sebagai Milik Umat

Putera Negara, Okezone · Minggu 07 Agustus 2016 05:32 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 07 340 1457122 menag-mtq-kembali-ke-khittahnya-sebagai-milik-umat-zlOftDLj5W.jpg

MATARAM - Gelaran akbar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi ditutup oleh Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam sambutannya, Lukman mengapresiasi suksesnya perhelatan dua tahunan ini, tak hanya karena berjalan sesuai rencana tapi juga berhasil mengembalikan MTQ kepada khittahnya.

“Penyelenggaraan kali ini, MTQ terasa betul telah kembali ke khittah. Khittah MTQ adalah milik masyarakat. Saya patut mengapresiasi seluruh masyarakat Lombok –tidak terkecuali dari non muslim— yang bahu membahu mengembalikan MTQ ke maqam-nya,” kata Lukman, Sabtu (6/8/2016).

Untuk memudahkan masyarakat, pemerintah telah menyediakan sistem pendukung agar partisipasi publik lebih aktif. Selain itu, untuk pertama kalinya penyelenggaraan MTQ ini menerapkan e-MTQ dan membentuk Media Center.

“Saat ini aplikasi online e-MTQ memang masih sederhana, sebatas pendaftaran dan kroscek dokumen. Tapi nyatanya itu pun sudah signifikan mengurangi praktik-praktik negatif yang mencederai kesucian kompetisi di bidang Alquran,” ujar Lukman.

“Aplikasi ini ke depan harus terus disempurnakan sehingga memiliki alur dari hulu ke hilir sebagai sistem yang lengkap. Yakni sistem online yang berjalan secara ringkas tapi akuntabel mulai dari pendaftaran, penilaian, hingga penentuan juara,” sambungnya.

Menurut dia, dengan kembalinya MTQ ke khittahny, kegiatan ini akan diteruskan melalui program-program yang bersifat strategis dan berkelanjutan. MTQ, tambah dia, harus menjadi sarana regenerasi untuk menjaga ketersediaan referensi yang selalu terjamin.

Lukman berharap Indonesia dapat mewarisi keindahan tilawah anak bangsa seperti Yusnar Yusuf atau Said Agil Al Munawar, Muammar ZA pada 1980-1990-an, keahlian qira’ah KH Basori Alwi pada 1950-1970, hingga kepiawaian lagu KH Abdul Karim pada 1930-1950.

Yang jika dirunut ke belakang, mereka mewarisi ilmu naghamatil Quran ala Syeikh Mustafa Ismail pada awal 1900-an yang merupakan regenerasi dari masa pengembangan seni Islam di zaman Abbasiyah, yang bersumber dari cara baca Quran semerdu Ubay bin Ka’ab di masa Rasulullah SAW.

Dirinya juga mengusulkan agar MTQ digabungkan dengan penyelenggaraan Festival Islami yang menampilkan pameran seni Islami, fashion show, bazar kuliner muslim, atau promosi wisata halal. Dengan harapan, lebih banyak pihak yang berpartisipasi.

“Saya harap MTQ tidak hanya gebyarnya yang akbar tapi juga berkontribusi meningkatkan perekonomian dalam skala yang mampu menyejahterakan masyarakat,” tuturnya. (fas)

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini